TEL AVIV | Sentrapos.co.id — Peta politik Timur Tengah kembali mengalami dinamika baru. Setelah sejumlah negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel, kini Suriah mulai membuka ruang dialog dengan negara tersebut.
Di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed Al Sharaa, Damaskus menunjukkan sinyal perubahan kebijakan luar negeri dengan mempertimbangkan negosiasi jangka panjang bersama Israel.
Fokus utama pembahasan adalah wilayah strategis Dataran Tinggi Golan, yang hingga kini masih diduduki Israel dan menjadi sumber ketegangan selama puluhan tahun.
“Jika kita mencapai kesepakatan, kita bisa memasuki negosiasi jangka panjang untuk menyelesaikan masalah Golan,” tegas Al Sharaa dalam forum diplomatik di Antalya, Turki, Jumat (17/4), dikutip AFP.
Langkah ini menjadi titik balik setelah Suriah selama ini tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel.
Dinamika Baru Pasca Kejatuhan Assad
Perubahan arah kebijakan ini terjadi setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024, yang membuka peluang pendekatan baru terhadap konflik lama.
Sejak itu, Israel dilaporkan memperkuat kehadiran militernya di zona penyangga yang diawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa di wilayah Golan.
Zona tersebut selama ini menjadi garis pemisah antara pasukan Suriah dan Israel sejak perjanjian tahun 1974.
Al Sharaa menilai Israel telah melanggar kesepakatan lama tersebut, sehingga diperlukan “aturan baru” yang menjamin stabilitas keamanan kedua pihak.
“Suriah ingin mengaktifkan kembali perjanjian pemisahan pasukan atau menyepakati kesepakatan baru demi keamanan bersama,” ujarnya.
Negosiasi Mulai Mengarah ke Kesepakatan Keamanan
Sinyal negosiasi juga sebelumnya disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad Al Shaibani, yang menyebut adanya pembicaraan terkait perjanjian keamanan di wilayah yang baru diduduki Israel.
Namun, ia menegaskan bahwa pembahasan tersebut belum mencakup isu Golan secara menyeluruh.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap bersikukuh tidak akan mengembalikan wilayah Golan kepada Suriah.
Golan, Titik Panas Sejak 1967
Wilayah Golan telah menjadi sengketa sejak Perang Arab-Israel 1967, ketika Israel merebut sebagian besar wilayah tersebut dari Suriah.
Sejak saat itu, Israel mencaplok wilayah tersebut, langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar komunitas internasional.
Gelombang Normalisasi Dunia Arab
Langkah Suriah ini juga terjadi di tengah tren normalisasi hubungan antara negara Arab dan Israel melalui Abraham Accords.
Beberapa negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko telah lebih dulu menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Selain itu, negara seperti Mesir dan Yordania juga telah lama memiliki hubungan resmi dengan Tel Aviv.
Perkembangan ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Suriah akan menjadi negara berikutnya yang menormalisasi hubungan dengan Israel? (*)
Poin Utama Berita
- Suriah mulai membuka dialog dengan Israel di bawah Presiden Ahmed Al Sharaa
- Negosiasi fokus pada konflik Dataran Tinggi Golan
- Israel tetap menolak mengembalikan wilayah Golan
- Perubahan terjadi pasca jatuhnya Bashar al-Assad
- Tren normalisasi Israel dengan negara Arab terus berkembang
- Potensi perubahan geopolitik besar di Timur Tengah

















