Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
INVESTIGASI & SOROTPENDIDIKAN & KESEHATANPERISTIWASOSIAL POLITIKVIRAL

Viral LCC Empat Pilar MPR Kalbar, MC Shindy Lutfiana Minta Maaf Usai Ucapan Picu Polemik

35
×

Viral LCC Empat Pilar MPR Kalbar, MC Shindy Lutfiana Minta Maaf Usai Ucapan Picu Polemik

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PONTIANAK | Sentrapos.co.id — Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat terus menjadi sorotan publik setelah video jalannya final kompetisi tersebut viral di media sosial.

Master of Ceremony (MC) acara, Shindy Lutfiana, akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun Instagram pribadinya, @shindy_mcwedding, terkait pernyataan yang dinilai memicu kekecewaan peserta dan masyarakat.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Dalam unggahannya, Shindy mengakui ucapannya saat final lomba berlangsung tidak tepat disampaikan dalam kapasitasnya sebagai pembawa acara.

“Seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut,” tulis Shindy Lutfiana.

Ucapan yang menjadi sorotan publik adalah kalimat “mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja” yang terlontar di tengah polemik penilaian lomba.

Pernyataan tersebut dianggap sebagian masyarakat tidak sensitif terhadap keberatan peserta terkait proses penilaian pada babak final.

Penilaian Lomba Jadi Sorotan Publik

Kontroversi bermula saat salah satu jawaban dari regu C SMAN 1 Pontianak dinyatakan salah oleh dewan juri sehingga mendapat pengurangan nilai.

Namun publik kemudian menyoroti fakta bahwa jawaban serupa dari tim lain justru dinilai benar dan memperoleh poin penuh.

Perbedaan penilaian tersebut memicu kritik luas di media sosial dan memunculkan dugaan inkonsistensi dalam proses penjurian.

“Polemik penilaian memicu gelombang kritik publik terhadap profesionalisme penyelenggaraan lomba.”

Adapun dua juri dalam perlombaan tersebut diketahui bernama Dyastasita Widya Budi dan Indri Wahyuni.

Hingga kini, polemik terkait mekanisme penilaian masih menjadi bahan perbincangan warganet, khususnya di Kalimantan Barat.

Shindy Akui Ucapannya Melukai Banyak Pihak

Dalam klarifikasinya, Shindy menyampaikan permohonan maaf kepada peserta, guru pendamping, serta masyarakat Kalimantan Barat yang merasa kecewa atas ucapannya.

Ia mengaku menyadari pernyataannya telah menimbulkan ketidaknyamanan bahkan melukai perasaan sejumlah pihak.

“Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya memohon maaf kepada seluruh pihak yang merasa kecewa dan tersakiti.”

Shindy juga menyebut peristiwa tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dirinya untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata ketika tampil di ruang publik.

Ia berjanji menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi agar lebih bijaksana dalam menjalankan tugas profesional sebagai MC.

Publik Minta Evaluasi Penyelenggaraan Lomba

Kasus ini turut memicu diskusi publik mengenai pentingnya transparansi dan konsistensi penilaian dalam kompetisi pendidikan.

Pengamat pendidikan menilai lomba akademik harus menjunjung tinggi objektivitas demi menjaga kepercayaan peserta dan masyarakat.

Selain itu, etika komunikasi panitia dan pembawa acara juga dinilai penting untuk menjaga situasi tetap kondusif saat terjadi perbedaan pendapat.

“Kepercayaan publik terhadap kompetisi pendidikan bergantung pada transparansi, profesionalisme, dan komunikasi yang baik.”

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari penyelenggara pusat terkait polemik penilaian dalam LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat tersebut.

(*)


Poin Utama Berita

  • MC LCC Empat Pilar MPR Kalbar, Shindy Lutfiana, menyampaikan permohonan maaf terbuka.
  • Ucapan MC saat final lomba viral dan memicu kritik publik.
  • Polemik bermula dari dugaan inkonsistensi penilaian jawaban peserta.
  • Regu C SMAN 1 Pontianak disebut mendapat nilai minus untuk jawaban yang sama dengan tim lain.
  • Publik menyoroti profesionalisme juri dan penyelenggaraan lomba.
  • Shindy mengaku ucapannya tidak pantas disampaikan sebagai MC.
  • Kasus ini menjadi pembelajaran soal etika komunikasi di ruang publik.
  • Publik meminta evaluasi transparansi dan objektivitas lomba pendidikan.