Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
HUKUM & KRIMINALPERISTIWAVIRAL

Viral! Polrestabes Surabaya Bongkar Markas Scamming Internasional, WNA China-Jepang Jadi Korban Penipuan Berkedok Polisi

36
×

Viral! Polrestabes Surabaya Bongkar Markas Scamming Internasional, WNA China-Jepang Jadi Korban Penipuan Berkedok Polisi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SURABAYA | Sentrapos.co.id — Polrestabes Surabaya berhasil membongkar markas penipuan daring (online scamming) jaringan internasional yang beroperasi di Kota Surabaya dan menyasar warga negara asing asal China serta Jepang sebagai korban.

Kasus ini menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial melalui unggahan akun Instagram Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawa @luthfie.daily.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Dalam video yang diunggah, salah satu korban mengungkap pengalaman mencekam setelah dijanjikan pekerjaan, namun justru diduga menjadi korban eksploitasi dan intimidasi.

Korban mengaku sempat dibawa menggunakan mobil ke sebuah lokasi rahasia sebelum paspornya disita oleh pelaku.

“Setelah sampai di lokasi, paspor saya diambil dan saya diberitahu tidak bisa pulang,” ungkap korban dalam video yang beredar.

Markas Dibuat Mirip Kantor Polisi

Saat penggerebekan berlangsung, polisi menemukan sejumlah barang bukti yang digunakan sindikat untuk menjalankan aksi penipuan internasional tersebut.

Barang bukti yang diamankan di antaranya telepon genggam dengan kamera depan ditutup, script penipuan, poster bertema kepolisian, hingga ruangan yang didesain menyerupai kantor polisi resmi.

Tak hanya itu, petugas juga menemukan adanya peredam suara di lokasi operasi sindikat.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto mengatakan praktik kejahatan ini merupakan bagian dari jaringan internasional lintas negara.

“Di Surabaya ada, di Solo ada, di Bali, ini jaringan internasional,” kata AKBP Edy Herwiyanto, Jumat (8/5/2026).

Menurut Edy, para pelaku berasal dari berbagai negara seperti China, Jepang, dan Taiwan.

“Pelakunya orang China, orang Jepang, orang Taiwan,” tegasnya.

Modus Menyamar Sebagai Polisi

Polisi mengungkap sindikat tersebut sengaja mendesain ruangan operasi menyerupai kantor kepolisian agar korban percaya dan takut.

Pelaku kemudian menghubungi korban di luar negeri dan berpura-pura sebagai aparat kepolisian resmi dari China maupun Jepang.

“Ruangan itu didesain sedemikian rupa seolah-olah kantor polisi. Mereka menghubungi korban di China dan Jepang seolah-olah anggota kepolisian,” jelas Edy.

Dengan modus tersebut, korban dibuat panik, diintimidasi, hingga diarahkan untuk menyerahkan data pribadi maupun akses keuangan.

Polisi memastikan seluruh korban berasal dari luar negeri, namun aksi kejahatan dilakukan dari wilayah Indonesia, termasuk Surabaya.

“Kalau korbannya di Indonesia tidak ada. Korbannya warga China dan Jepang, tapi kejahatannya dilakukan di Indonesia yaitu di Surabaya,” pungkasnya.

Jadi Alarm Kejahatan Siber Internasional

Terungkapnya kasus ini menjadi peringatan serius terkait maraknya praktik cyber scam lintas negara yang menjadikan Indonesia sebagai basis operasi.

Polisi kini terus mendalami jaringan pelaku, aliran dana, hingga kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam sindikat internasional tersebut.

Kasus ini juga kembali mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan mencurigakan dan modus penipuan digital berkedok aparat hukum. (*)


Poin Utama Berita

  • Polrestabes Surabaya membongkar markas scamming internasional di Surabaya.
  • Korban merupakan warga negara China dan Jepang.
  • Kasus viral setelah diunggah akun Kapolrestabes Surabaya.
  • Korban mengaku paspor disita dan tidak bisa pulang.
  • Polisi menemukan ruangan yang didesain menyerupai kantor polisi.
  • Barang bukti berupa HP, script penipuan, poster polisi dan peredam suara diamankan.
  • Sindikat diketahui merupakan jaringan internasional lintas kota dan negara.
  • Pelaku berasal dari China, Jepang dan Taiwan.
  • Modus pelaku menyamar sebagai aparat kepolisian untuk menipu korban.
  • Polisi mendalami kemungkinan jaringan lebih luas di Indonesia.