Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
BIROKRASIDAERAHEKONOMI & BISNISPERISTIWA

AHY Turun Tangan Benahi Ciliwung! Normalisasi Sungai dan Sodetan BKT Dikebut demi Cegah Banjir Jabodetabek

34
×

AHY Turun Tangan Benahi Ciliwung! Normalisasi Sungai dan Sodetan BKT Dikebut demi Cegah Banjir Jabodetabek

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau langsung kawasan inlet Sodetan Ciliwung menuju Banjir Kanal Timur (BKT) di Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (7/5/2026).

Dalam kunjungan tersebut, AHY menegaskan bahwa normalisasi sungai dan penguatan infrastruktur pengendali banjir harus dipercepat guna mengurangi risiko banjir yang terus mengancam kawasan Jabodetabek.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Didampingi Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti, AHY menyebut kapasitas tampung Sungai Ciliwung saat ini masih jauh dari ideal.

“Kondisi eksisting sungai baru sekitar 200 meter kubik per detik, sementara target ideal untuk mencegah banjir mencapai 570 meter kubik per detik,” ujar AHY.

Menurutnya, penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan sinergi lintas daerah dan kementerian.

AHY menegaskan kerja sama antara Kementerian Pekerjaan Umum dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta Jawa Barat menjadi kunci utama keberhasilan pengendalian banjir di wilayah hilir.

Selain normalisasi sungai, pemerintah juga akan mengoptimalkan fungsi Bendungan Kering Ciawi dan Sukamahi sebagai pengendali debit air dari wilayah hulu.

AHY menilai persoalan banjir Jabodetabek merupakan masalah kompleks yang saling terhubung antara kawasan hulu, tengah, hingga hilir.

“Pendekatan yang kita lakukan harus holistik karena masyarakat Jabodetabek menghadapi dua tekanan sekaligus, yaitu dari hulu dan peningkatan permukaan air laut di hilir,” tegasnya.

Ia juga menyoroti maraknya penyalahgunaan tata ruang dan berkurangnya kawasan resapan air akibat pembangunan yang tidak terkendali.

Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko banjir saat curah hujan tinggi melanda wilayah Jabodetabek.

Di sela peninjauan, AHY bersama komunitas lingkungan dan para pelajar turut mengikuti Gerakan Bakti Sungai Nasional dengan membersihkan sampah di aliran sungai.

Menurut AHY, pembangunan infrastruktur sebesar apa pun tidak akan efektif tanpa dukungan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai.

“Seberapa pun pemerintah hadir melalui pembangunan infrastruktur, upaya ini tidak akan langgeng apabila masyarakat masih membuang sampah sembarangan ke sungai,” katanya.

AHY juga mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat edukasi dan literasi lingkungan demi menjaga kualitas air serta kesehatan masyarakat.

Ia menekankan pentingnya gerakan kolektif untuk menjaga sungai sebagai bagian dari solusi jangka panjang pengendalian banjir nasional.

“Mari kita jaga bersama. Ini dari kita, untuk kita, dan oleh kita sendiri,” tandas AHY.

Peninjauan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat penguatan sistem pengendalian banjir sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin meningkat. (*)


Poin Utama Berita

  • AHY meninjau inlet Sodetan Ciliwung menuju BKT di Jakarta Timur.
  • Pemerintah mempercepat normalisasi sungai untuk cegah banjir Jabodetabek.
  • Kapasitas Sungai Ciliwung saat ini baru 200 meter kubik per detik.
  • Target ideal kapasitas sungai mencapai 570 meter kubik per detik.
  • Bendungan Ciawi dan Sukamahi akan dioptimalkan.
  • AHY menilai penanganan banjir harus dilakukan secara holistik.
  • Penyalahgunaan tata ruang disebut memperparah banjir.
  • AHY ikut Gerakan Bakti Sungai Nasional bersama pelajar dan komunitas.
  • Pemerintah mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat menjaga sungai.
  • Perubahan iklim dan kenaikan air laut menjadi ancaman tambahan bagi Jabodetabek.