WASHINGTON | Sentrapos.co.id — Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi menyatakan fase ofensif militernya terhadap Iran telah berakhir. Namun, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih jauh dari mereda, terutama di jalur strategis Selat Hormuz yang kini menjadi fokus utama pengamanan Washington.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengumumkan bahwa operasi militer bertajuk Operation Epic Fury telah selesai setelah berlangsung selama 66 hari bersama Israel dalam menekan Iran.
“Operation Epic Fury telah selesai. Kami telah mencapai tujuan dari operasi tersebut,” tegas Marco Rubio di Gedung Putih, Selasa (6/5/2026) waktu setempat.
Pernyataan itu menjadi sinyal penting bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump mulai menggeser strategi dari serangan ofensif menuju stabilisasi jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Trump Tunda Pengawalan Kapal di Selat Hormuz
Tak lama setelah pengumuman Rubio, Presiden Donald Trump mengejutkan dunia dengan mengumumkan penghentian sementara program pengawalan kapal bernama Project Freedom.
Langkah itu diambil untuk membuka peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.
“Project Freedom akan dijeda sementara guna melihat apakah kesepakatan tersebut dapat difinalisasi dan ditandatangani,” tulis Trump melalui media sosial resminya.
Trump menyebut keputusan tersebut diambil atas permintaan Pakistan serta sejumlah negara lain yang menginginkan deeskalasi konflik di kawasan Teluk Persia.
Meski demikian, AS tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran.
Selat Hormuz Masih Membara
Situasi di Selat Hormuz tetap mencekam meski operasi militer resmi dihentikan.
Sebuah organisasi pemantau maritim Inggris melaporkan adanya kapal kargo yang terkena proyektil misterius di kawasan selat tersebut beberapa jam setelah pengumuman AS.
Selain itu, penutupan jalur pelayaran membuat lebih dari 1.550 kapal komersial dengan sekitar 22.000 awak tertahan di Teluk Persia.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima ekspor minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari.
Ketegangan di wilayah itu langsung memicu gejolak pasar energi internasional.
Iran Tolak Tekanan AS
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan Washington.
Ia menilai kebijakan “tekanan maksimum” yang diterapkan AS bertolak belakang dengan semangat diplomasi.
“Amerika Serikat menjalankan tekanan maksimum, namun pada saat yang sama meminta Iran kembali ke meja perundingan dan tunduk pada tuntutan sepihak mereka. Itu persamaan yang mustahil,” tegas Pezeshkian.
Iran juga memperingatkan kapal-kapal asing agar tidak melintasi Selat Hormuz tanpa izin resmi dari Teheran.
Bahkan, pemerintah Iran menyebut langkah AS sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dan menjuluki operasi Washington sebagai “Project Deadlock”.
Harga Minyak Dunia Bergejolak
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah turut mengguncang pasar energi global.
Harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 3,6 persen ke bawah 111 dolar AS per barel setelah sebelumnya melonjak hampir 6 persen akibat ketegangan di Hormuz.
Analis menilai penurunan harga terjadi setelah AS menyatakan operasi militer telah berakhir, meski kekhawatiran pasar masih tinggi terhadap potensi eskalasi baru.
Tekanan Politik Donald Trump Menguat
Deklarasi berakhirnya operasi militer juga dinilai berkaitan erat dengan tekanan politik domestik yang dihadapi Presiden Donald Trump.
Konflik yang berlangsung lebih dari dua bulan disebut semakin tidak populer di dalam negeri AS.
Selain itu, pemerintahan Trump juga menghadapi tekanan hukum terkait War Powers Act, yang mewajibkan presiden menghentikan operasi militer dalam 60 hari tanpa persetujuan Kongres.
Tenggat tersebut dilaporkan telah terlewati sekitar satu pekan.
AS Fokus Amankan Jalur Minyak Dunia
Marco Rubio menegaskan prioritas utama Washington kini adalah menciptakan zona aman bagi pelayaran internasional di Selat Hormuz.
AS akan mengerahkan perlindungan udara dan laut guna memastikan distribusi energi global tetap berjalan.
Sebelumnya, melalui Project Freedom, sejumlah kapal dagang netral berhasil melintasi Selat Hormuz dengan bantuan militer AS di tengah ancaman serangan rudal dan drone.
Dua kapal perang AS juga dilaporkan telah memasuki kawasan Teluk Persia untuk memperkuat pengamanan.
Namun hingga kini, belum ada tanda kuat bahwa AS dan Iran benar-benar mendekati kesepakatan damai permanen.
Washington menilai tekanan ekonomi tetap diperlukan terhadap Teheran, sementara Iran bersikeras menuntut pencabutan blokade laut sebagai syarat utama negosiasi.
Situasi tersebut membuat Selat Hormuz masih menjadi titik paling rawan dalam geopolitik global saat ini. (*)
Poin Utama Berita
- AS resmi menyatakan Operation Epic Fury terhadap Iran telah berakhir.
- Donald Trump menghentikan sementara program pengawalan kapal Project Freedom.
- Selat Hormuz masih memanas meski operasi militer dihentikan.
- Lebih dari 1.550 kapal dan 22.000 awak tertahan di Teluk Persia.
- Iran menolak tekanan maksimum AS dan menegaskan tidak akan tunduk.
- Harga minyak dunia bergejolak akibat ketegangan di Timur Tengah.
- AS kini fokus mengamankan jalur pelayaran dan distribusi energi global.
- Konflik AS-Iran masih berpotensi memicu eskalasi baru di kawasan Teluk.

















