Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

AS dan Iran Kembali Bentrok di Selat Hormuz, Trump Klaim Kapal Perang Amerika Diserang

39
×

AS dan Iran Kembali Bentrok di Selat Hormuz, Trump Klaim Kapal Perang Amerika Diserang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

WASHINGTON | Sentrapos.co.id — Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua negara terlibat bentrokan militer di kawasan strategis Selat Hormuz, Teluk Persia.

Insiden tersebut berisiko mengguncang gencatan senjata yang telah berlangsung selama sekitar satu bulan dan memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi eskalasi konflik baru di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa tiga kapal perusak Angkatan Laut AS mendapat serangan saat melintasi Selat Hormuz pada Kamis (7/5/2026).

“Tiga kapal perusak kelas dunia Amerika baru saja berhasil melewati Selat Hormuz di bawah tembakan musuh,” tulis Donald Trump melalui akun Truth Social, dikutip Jumat (8/5/2026).

Trump mengklaim ketiga kapal perang Amerika tidak mengalami kerusakan, namun pihak Iran disebut mengalami kerugian besar akibat serangan balasan militer AS.

“Tidak ada kerusakan pada ketiga kapal tersebut, tetapi kerusakan besar dialami oleh pihak Iran,” lanjut Trump.

Militer AS Serang Fasilitas Iran

Menanggapi insiden itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi pihaknya melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran.

Target serangan disebut merupakan lokasi peluncuran rudal, drone, serta kapal cepat yang diduga digunakan untuk menyerang kapal perang Amerika.

“Pasukan AS mencegat serangan Iran dan merespons dengan serangan untuk membela diri,” tulis CENTCOM dalam pernyataan resminya.

Serangan tersebut dilakukan saat kapal perusak rudal kendali Angkatan Laut AS melintas menuju Teluk Oman.

Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata

Di sisi lain, militer Iran menuding Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak Iran dan wilayah sipil di sekitar Pulau Qeshm, Selat Hormuz.

Komando militer Iran mengklaim telah membalas serangan dengan menargetkan kapal-kapal militer AS di kawasan timur selat dan dekat pelabuhan Chabahar.

“Serangan kami menimbulkan kerusakan signifikan,” ujar juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran.

Namun klaim tersebut dibantah oleh CENTCOM yang menyatakan tidak ada aset militer Amerika yang terkena dampak serangan Iran.

Gencatan Senjata Masih Berlaku

Meski bentrokan kembali terjadi, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran masih tetap berjalan.

Trump bahkan mengisyaratkan proses negosiasi diplomatik dengan Teheran akan tetap dilanjutkan.

“Mereka mempermainkan kita hari ini. Kita menghancurkan mereka,” kata Trump kepada wartawan di Washington.

Media pemerintah Iran, Press TV, kemudian melaporkan bahwa situasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau sekitar Selat Hormuz kini telah kembali normal setelah beberapa jam terjadi baku tembak.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis dunia yang menjadi jalur utama distribusi minyak global.

Setiap ketegangan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas geopolitik internasional hingga harga minyak dunia.

Konflik terbaru antara AS dan Iran pun kembali memicu kekhawatiran pasar global terhadap ancaman gangguan distribusi energi dan meningkatnya ketegangan keamanan di Timur Tengah. (*)


Poin Utama Berita

  • AS dan Iran kembali bentrok di Selat Hormuz.
  • Donald Trump mengklaim tiga kapal perang AS diserang.
  • Militer AS membalas dengan menyerang fasilitas militer Iran.
  • CENTCOM menyebut serangan dilakukan untuk membela diri.
  • Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata.
  • Teheran mengklaim serangan balasan menimbulkan kerusakan signifikan.
  • AS membantah ada aset militer yang terkena serangan Iran.
  • Trump menegaskan gencatan senjata masih berlaku.
  • Selat Hormuz kembali menjadi titik panas geopolitik dunia.
  • Ketegangan memicu kekhawatiran terhadap harga minyak global.