MALANG | Sentrapos.co.id — Gunung Semeru yang terletak di Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang meningkat signifikan. Pada Jumat pagi (19/6/2026) pukul 07.21 WIB, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengalami erupsi hebat disertai luncuran Awan Panas Guguran (APG).
Meski demikian, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) memastikan bahwa destinasi wisata internasional Gunung Bromo hingga saat ini tetap aman dan dibuka normal bagi para pelancong.
Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, menegaskan bahwa erupsi eksklusif di Semeru tidak serta-merta melumpuhkan seluruh kawasan konservasi TNBTS. Karakteristik kedua gunung tersebut sangat bertolak belakang.
“Erupsi Gunung Semeru tidak otomatis berdampak pada seluruh kawasan TNBTS. Meski Semeru dan Bromo berada dalam satu kawasan taman nasional, keduanya merupakan gunung api yang berbeda dengan karakteristik aktivitas vulkanik dan sistem pemantauan yang berbeda pula,” ujar Endrip saat dikonfirmasi, Jumat (19/6/2026).
Pemantauan Terpisah dan Zona Aman Bromo
Secara geografis dan teknis, mitigasi bencana kedua gunung ini dipisahkan secara ketat. Aktivitas Gunung Semeru dipantau penuh oleh Pos Pengamatan Gunung Sawur, sedangkan aktivitas Gunung Bromo diawasi secara mandiri dari Pos Cemoro Lawang.
Berdasarkan rekomendasi teknis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kawasan wisata Bromo berada jauh di luar zona bahaya sektoral Semeru.
“Karena itu, aktivitas wisata di Bromo tetap dapat berlangsung seperti biasa,” tegas Endrip secara lugas.
Kendati status Bromo aman, pihak TNBTS tidak mau kecolongan. Langkah mitigasi dan koordinasi intensif bersama PVMBG terus ditingkatkan demi menjamin keselamatan wisatawan.
“Kami tetap memperhatikan perkembangan aktivitas vulkanik yang terus dipantau dan dievaluasi oleh PVMBG melalui masing-masing pos pengamatan gunung api tersebut,” pungkasnya.
Detail Erupsi Semeru: Tinggi Kolom Abu Capai 1.000 Meter
Berdasarkan data resmi PVMBG, tinggi kolom letusan Gunung Semeru pada jumat pagi teramati mencapai 1.000 meter di atas puncak, atau sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut. Kolom abu tebal berwarna putih hingga kelabu dilaporkan condong bergerak ke arah utara dan barat laut.
Erupsi ini terekam kuat pada instrumen seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 22 mm dan durasi gempa letusan selama kurang lebih 5 menit 33 detik.
Ancaman utama pada erupsi kali ini adalah munculnya awan panas guguran dengan daya jangkau yang cukup jauh menerjang sektor tenggara.
“Gunung Semeru mengalami erupsi dengan meluncurkan awan panas guguran sejauh 4.500 meter yang mengarah ke Besuk Kobokan,” jelas Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, dalam laporan tertulisnya.
Masyarakat dan wisatawan di sekitar lereng Semeru diimbau untuk mematuhi rekomendasi jarak aman dari PVMBG dan menjauhi aliran sungai Besuk Kobokan guna menghindari ancaman sekunder berupa lahar hujan. (*)
Poin Utama Berita
-
Erupsi Pagi Hari: Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Jumat (19/6/2026) pagi dengan tinggi kolom abu vertikal mencapai 1.000 meter.
-
Luncuran Awan Panas: Erupsi ini meluncurkan Awan Panas Guguran (APG) sejauh 4,5 kilometer (4.500 meter) yang mengarah ke sektor Besuk Kobokan.
-
Wisata Bromo Tetap Buka: BB TNBTS menegaskan destinasi wisata Gunung Bromo tidak terdampak dan tetap beroperasi normal karena berada di luar zona bahaya.
-
Sistem Pantau Berbeda: Aktivitas vulkanik Semeru dan Bromo diawasi oleh dua pos pengamatan terpisah dengan karakteristik sistem magma yang berbeda.
-
Imbauan Keselamatan: Pihak berwenang meminta masyarakat tetap tenang namun waspada, serta mematuhi seluruh rekomendasi batas aman yang dikeluarkan PVMBG.

















