Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

Intelijen Eropa Bongkar Dugaan China Latih Tentara Rusia untuk Perang Ukraina

35
×

Intelijen Eropa Bongkar Dugaan China Latih Tentara Rusia untuk Perang Ukraina

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Laporan Rahasia Sebut Ratusan Tentara Rusia Dilatih Drone dan Sistem Elektronik di Pangkalan Militer China

BEIJING | Sentrapos.co.id – Lembaga intelijen Eropa mengungkap dugaan kerja sama militer terselubung antara China dan Rusia di tengah perang Ukraina yang masih berlangsung.

Dalam laporan rahasia yang dikutip media Jerman Die Welt, militer China disebut telah melatih ratusan tentara Rusia untuk menghadapi pertempuran di Ukraina.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Laporan tersebut memunculkan kekhawatiran baru di tengah meningkatnya hubungan strategis Beijing dan Moskwa yang selama ini menjadi sorotan negara-negara Barat.

Menurut laporan Die Welt yang terbit Rabu (20/5/2026), Tentara Pembebasan Rakyat China (People’s Liberation Army/PLA) diduga menggelar pelatihan militer rahasia di enam pangkalan militer China pada akhir tahun lalu.

Pelatihan itu disebut berfokus pada teknologi drone tempur dan sistem penangkal elektronik modern.

Tentara Rusia Diduga Dilatih Teknologi Drone

Berdasarkan dokumen intelijen yang beredar, banyak tentara Rusia yang mengikuti pelatihan tersebut kemudian dikirim ke garis depan perang Ukraina, termasuk ke unit drone elite Rusia bernama “Rubicon”.

Laporan itu juga menyebut kerja sama militer tidak hanya berlangsung satu arah.

Sejumlah personel militer China disebut diam-diam mengikuti pelatihan tempur di Rusia untuk mempelajari operasi kendaraan lapis baja, artileri, hingga sistem pertahanan udara.

Sumber intelijen Eropa memperkirakan sekitar 600 personel PLA berada di pangkalan militer Rusia sepanjang tahun lalu.

“Kerja sama yang semakin erat antara Moskwa dan Beijing terlihat jelas baik di bidang militer maupun ekonomi,” ujar Ketua Komite Pengawas Intelijen Parlemen Jerman, Marc Henrichmann.

China-Rusia Diduga Tukar Informasi Senjata Barat

Intelijen Eropa juga menduga Rusia dan China saling berbagi data penting terkait teknologi persenjataan Barat yang digunakan Ukraina dalam perang.

Perhatian utama disebut tertuju pada sejumlah sistem senjata modern seperti peluncur roket HIMARS buatan Amerika Serikat, sistem pertahanan udara Patriot, kendaraan tempur Marder buatan Jerman, hingga tank Abrams milik AS.

Laporan ini memperkuat dugaan negara-negara Barat bahwa China memberi dukungan lebih besar kepada Rusia dibandingkan yang selama ini diakui secara terbuka.

Padahal sebelumnya Beijing terus menegaskan posisinya netral dalam konflik Rusia-Ukraina.

Hubungan Beijing dan Moskwa Kian Erat

Sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina dimulai pada 2022, hubungan antara Beijing dan Moskwa dinilai semakin solid, baik secara ekonomi maupun strategis.

China menjadi salah satu pembeli utama minyak Rusia setelah Moskwa terkena sanksi ekonomi Barat.

Di sisi lain, negara-negara Barat juga menyoroti ekspor barang dual-use asal China ke Rusia, seperti semikonduktor, chip elektronik, hingga motor listrik kecil yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer.

Dalam kunjungan resmi Presiden Rusia Vladimir Putin ke Beijing pekan ini, Presiden China Xi Jinping menegaskan kedua negara terus memperkuat koordinasi strategis.

“Kedua negara telah terus memperdalam kepercayaan politik timbal balik dan koordinasi strategis,” kata Xi Jinping seperti dikutip media pemerintah China.

Dunia Khawatir Konflik Ukraina Makin Meluas

Pengamat geopolitik menilai laporan intelijen tersebut dapat memperburuk ketegangan antara China dengan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan NATO.

Jika dugaan pelatihan militer itu terbukti benar, maka posisi netral China dalam konflik Ukraina berpotensi dipertanyakan secara internasional.

Selain itu, kerja sama militer antara dua kekuatan besar dunia tersebut dinilai bisa memperpanjang konflik Ukraina sekaligus memperbesar risiko ketidakstabilan geopolitik global.

Hingga kini, pemerintah China maupun Rusia belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan intelijen yang dipublikasikan media Jerman tersebut. (*)


Poin Utama Berita

  • Intelijen Eropa menduga China melatih ratusan tentara Rusia.
  • Pelatihan dilakukan di enam pangkalan militer China.
  • Fokus pelatihan meliputi drone tempur dan sistem elektronik.
  • Tentara Rusia yang dilatih disebut dikirim ke perang Ukraina.
  • Personel PLA juga diduga menerima pelatihan militer di Rusia.
  • Rusia dan China disebut berbagi data senjata Barat milik Ukraina.
  • Hubungan strategis Beijing dan Moskwa dinilai semakin erat.
  • Dunia khawatir konflik Ukraina memicu ketegangan global baru.