SEMARANG | Sentrapos.co.id — Tanggul Sungai Silandak dan badan Jalan Jembawan I RT 06 RW 01, Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Kota Semarang, mengalami ambles cukup parah dan memicu kekhawatiran warga sekitar.
Jalan yang berada tepat di samping permukiman warga itu ambles sepanjang sekitar 20 meter dengan kedalaman mencapai kurang lebih 2 meter. Retakan tanah dan penurunan badan jalan disebut terus meluas sejak awal kejadian.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi jalan mengalami kerusakan serius dengan bagian tanah di bawah aspal terlihat longsor ke arah tanggul sungai.
Salah seorang warga setempat, Projo, mengaku retakan mulai terlihat sejak Selasa siang (5/5/2026) dan semakin memburuk pada malam hari.
“Dugaan kami ikan sapu-sapu nggerongi pondasi tanggul sampai masuk ke bawah jalan, akhirnya ambles,” kata Projo, Jumat (8/5/2026).
Menurut warga, keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Silandak diduga membuat lubang-lubang di area pondasi tanggul sehingga mempercepat pengikisan tanah.
Warga kini berharap pemerintah segera melakukan penanganan darurat karena khawatir kerusakan semakin meluas saat hujan deras maupun banjir datang.
“Harapan saya segera dilakukan perbaikan atau penguatan tanggul,” ujar Projo.
Pemkot Semarang Bantah Ambles Karena Ikan Sapu-Sapu
Namun demikian, Pemerintah Kota Semarang membantah dugaan bahwa kerusakan tanggul dipicu aktivitas ikan sapu-sapu.
Kepala Bidang Pengelolaan Pembudidayaan Ikan Dinas Perikanan Kota Semarang, Rita Muflikatun Nu’amah, menjelaskan kerusakan lebih dipengaruhi arus sungai yang berputar dan terus mengikis tanah di bawah konstruksi tanggul.
“Aliran sungai di lokasi tersebut berputar dan mengikis tanah di bawah tanggul hingga akhirnya jebol dan menyebabkan tanah ambles,” jelas Rita.
Rita menegaskan populasi ikan sapu-sapu di Sungai Silandak belum masuk kategori berbahaya ataupun ledakan populasi.
“Memang ada ikan sapu-sapu di sana, tetapi belum dalam kategori membahayakan jika melihat kondisi Sungai Silandak. Kerusakan tanggul lebih condong disebabkan arus sungai yang cukup deras,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Murni Ediati, menyebut hasil survei menunjukkan penurunan jalan dipicu tanggul Sungai Silandak yang mengalami kemiringan dan rembesan.
Menurutnya, aliran air terus menggerus pondasi talud hingga tanah di bawah badan jalan ikut tertarik dan menyebabkan ambles.
“Dari hasil survei, penurunan jalan sepanjang 41 meter itu dipicu tanggul Sungai Silandak yang mengalami kemiringan serta rembesan,” kata Murni.
Pemkot Semarang saat ini terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) guna mempercepat penanganan talud dan penguatan tanggul.
Perbaikan tanggul disebut menjadi prioritas utama sebelum proses perbaikan badan jalan dilakukan demi menjaga keselamatan warga sekitar.
“Kami terus berkoordinasi dengan BBWS supaya penanganan talud bisa segera dilakukan. Setelah itu baru kami lanjutkan dengan perbaikan aspal jalan demi keselamatan dan kenyamanan warga,” pungkas Murni. (*)
Poin Utama Berita
- Jalan Jembawan I dan tanggul Sungai Silandak di Semarang Barat ambles parah.
- Kerusakan jalan mencapai sekitar 20 meter dengan kedalaman hingga 2 meter.
- Warga menduga ikan sapu-sapu melubangi pondasi tanggul sungai.
- Pemkot Semarang membantah ikan sapu-sapu menjadi penyebab utama.
- Dinas Perikanan menyebut arus sungai deras mengikis pondasi tanggul.
- Disperkim menyatakan tanggul mengalami kemiringan dan rembesan.
- Penurunan jalan disebut mencapai panjang sekitar 41 meter.
- Warga khawatir kerusakan makin parah saat hujan dan banjir.
- Pemkot dan BBWS tengah menyiapkan penanganan talud dan perbaikan jalan.

















