Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
HEADLINE NEWSINTERNASIONALPERISTIWA

Negosiasi AS-Iran Memanas! Faksi Ultra Garis Keras Diduga Berupaya Gagalkan Kesepakatan Nuklir

34
×

Negosiasi AS-Iran Memanas! Faksi Ultra Garis Keras Diduga Berupaya Gagalkan Kesepakatan Nuklir

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TEHERAN | Sentrapos.co.id — Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki fase paling krusial. Namun di tengah upaya diplomasi tersebut, muncul tekanan besar dari kelompok ultra garis keras Iran yang diduga berusaha menggagalkan potensi kesepakatan baru dengan Washington.

Kelompok bernama Jebhe-ye Paydari atau Front Ketahanan menjadi salah satu kekuatan paling vokal dalam menolak pembicaraan damai antara Teheran dan AS.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Faksi ini dikenal luas sebagai kelompok “Revolusioner Super” yang memandang perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel sebagai perjuangan ideologis yang tidak boleh dihentikan.

“Mereka memandang perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel sebagai perjuangan abadi,” ujar peneliti Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan, Hamidreza Azizi.

Kelompok tersebut menilai kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 sebagai kesalahan besar dan tidak ingin sejarah serupa kembali terulang.

Kelompok Garis Keras Mulai Menekan Pemerintah Iran

Dalam beberapa pekan terakhir, Front Paydari disebut semakin agresif menyuarakan penolakan terhadap negosiasi dengan Washington.

Tekanan dilakukan melalui media, parlemen, hingga aksi-aksi politik di dalam negeri.

Mereka menuduh para negosiator Iran telah keluar dari garis ideologi revolusi dan dianggap terlalu lunak terhadap Amerika Serikat.

“Bagi mereka, mempertimbangkan kesepakatan dengan AS dianggap sebagai bentuk penyerahan diri,” tulis media Raja News yang disebut dekat dengan kelompok tersebut.

Situasi ini memunculkan ketegangan baru di tengah upaya Iran menjaga stabilitas politik pasca meningkatnya konflik regional dan tekanan internasional.

Perebutan Pengaruh Pasca Ali Khamenei

Munculnya Front Paydari juga disebut memperlihatkan perebutan pengaruh di tubuh elite Iran pasca meninggalnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei di hari pertama perang.

Kini perhatian publik tertuju pada kepemimpinan baru Mojtaba Khamenei yang dinilai sedang berusaha menjaga persatuan internal Iran di tengah ancaman eksternal.

Meski para pejabat Iran terus menampilkan citra solid di hadapan publik, perbedaan pandangan di dalam negeri semakin sulit disembunyikan.

Trump Sebut Iran “Terpecah”

Situasi politik Iran bahkan turut disorot mantan Presiden AS Donald Trump yang menyebut kepemimpinan Iran sedang “terpecah” dan “kacau”.

Pernyataan itu muncul setelah kelompok garis keras Iran terus melancarkan kritik keras terhadap negosiator pemerintah.

Meski demikian, para pemimpin Iran tetap berusaha menunjukkan sikap bersatu dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel.

Kesepakatan Nuklir Kini di Ujung Tanduk

Analis menilai hasil negosiasi Iran-AS kali ini akan sangat menentukan arah politik Iran di masa depan.

Jika kesepakatan tercapai, kelompok moderat berpotensi memperkuat pengaruhnya. Namun jika gagal, Front Paydari dan kelompok ultra konservatif diperkirakan akan semakin dominan.

Di tengah memanasnya situasi geopolitik Timur Tengah, negosiasi ini bukan hanya soal nuklir, tetapi juga perebutan masa depan kekuasaan di Iran. (*)


Poin Utama Berita

  • Negosiasi AS dan Iran memasuki fase kritis.
  • Kelompok ultra garis keras Front Paydari menolak kesepakatan dengan AS.
  • Faksi tersebut menganggap perlawanan terhadap AS dan Israel sebagai ideologi utama.
  • Kesepakatan nuklir Iran 2015 dianggap kesalahan besar oleh kelompok garis keras.
  • Front Paydari disebut menyerang para negosiator Iran secara terbuka.
  • Situasi politik Iran dinilai mulai terpecah secara internal.
  • Donald Trump menyebut kepemimpinan Iran sedang kacau.
  • Negosiasi kali ini dinilai menentukan masa depan politik Iran.