Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

Israel Kewalahan Hadapi Drone Hizbullah, Teknologi Serat Optik Jadi Ancaman Baru di Lebanon

11
×

Israel Kewalahan Hadapi Drone Hizbullah, Teknologi Serat Optik Jadi Ancaman Baru di Lebanon

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TEL AVIV | Sentrapos.co.id — Militer Israel dilaporkan masih kesulitan menemukan cara efektif untuk menghadapi drone Hizbullah yang semakin canggih di wilayah Lebanon selatan.

Media Israel, KAN, melaporkan drone serat optik milik Hizbullah kini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi operasi militer Tel Aviv di perbatasan Lebanon.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Mengutip pejabat militer Israel yang identitasnya dirahasiakan, laporan tersebut menyebut tentara Israel mulai menerapkan sistem penargetan cerdas baru guna meningkatkan kemampuan mendeteksi dan mencegat drone.

“Drone Hizbullah kini menjadi tantangan operasional utama bagi tentara Israel di Lebanon selatan,” tulis laporan KAN.

Drone Serat Optik Sulit Dideteksi

Menurut laporan tersebut, drone milik Hizbullah menggunakan teknologi serat optik yang membuat sistem pertahanan Israel kesulitan melakukan pelacakan maupun intersepsi.

Drone tersebut disebut terus menyerang posisi pasukan dan kendaraan militer Israel di wilayah konflik.

Situasi itu membuat militer Israel harus memperkuat sistem pengawasan, terutama dalam operasi malam hari.

Sebagai langkah tambahan, ratusan perangkat penglihatan malam “Dagger” dilaporkan telah dibagikan kepada pasukan Israel untuk meningkatkan akurasi tembakan terhadap target bergerak.

Netanyahu Akui Ancaman Hizbullah

Pada akhir April lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa rudal dan drone Hizbullah menjadi ancaman utama bagi keamanan Israel.

Ia bahkan meminta para komandan militer segera menemukan solusi efektif menghadapi serangan teknologi baru yang digunakan kelompok tersebut.

“Rudal dan drone Hizbullah adalah dua ancaman utama yang harus diatasi,” kata Netanyahu dalam laporan media lokal.

Gencatan Senjata Masih Rapuh

Meski gencatan senjata antara Israel dan Lebanon mulai berlaku sejak 17 April 2026 dan diperpanjang hingga pertengahan Mei, situasi di lapangan disebut masih jauh dari stabil.

Israel dilaporkan tetap melancarkan serangan harian ke sejumlah wilayah Lebanon.

Sementara itu, Hizbullah juga terus melakukan perlawanan dan mempertahankan aktivitas militernya di wilayah selatan.

Konflik yang terus memanas sejak perang Iran pecah pada akhir Februari disebut telah menewaskan lebih dari 2.700 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.

Israel Keluarkan Perintah Evakuasi

Pada Sabtu (9/5/2026), Israel kembali mengeluarkan perintah evakuasi paksa untuk sembilan kota dan desa di Lebanon sebelum melancarkan serangan lanjutan.

Langkah tersebut terjadi hanya beberapa hari menjelang pembicaraan perdamaian antara Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung di Washington pada 14-15 Mei mendatang.

Konflik Teknologi dan Militer Kian Kompleks

Munculnya drone serat optik Hizbullah memperlihatkan perubahan besar dalam pola peperangan modern di Timur Tengah.

Kelompok militan kini semakin mengandalkan teknologi canggih untuk menghadapi sistem pertahanan negara-negara besar.

Di sisi lain, Israel juga terus memperkuat teknologi militer dan sistem pengawasan demi mempertahankan dominasi keamanan di kawasan.

Situasi tersebut membuat konflik Lebanon-Israel semakin sulit diprediksi meski jalur diplomasi mulai dibuka. (*)


Poin Utama Berita

  • Israel kesulitan menghadapi drone canggih Hizbullah di Lebanon selatan.
  • Drone serat optik Hizbullah sulit dideteksi dan dicegat.
  • Militer Israel mulai memakai sistem penargetan cerdas baru.
  • Ratusan alat penglihatan malam dibagikan ke tentara Israel.
  • Netanyahu mengakui drone Hizbullah menjadi ancaman utama.
  • Gencatan senjata Israel-Lebanon masih rapuh dan penuh serangan.
  • Konflik sejak perang Iran telah menewaskan ribuan orang.
  • Israel mengeluarkan perintah evakuasi di sejumlah wilayah Lebanon.
  • Pembicaraan damai dijadwalkan berlangsung di Washington pekan depan.