WASHINGTON | Sentrapos.co.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi global setelah menyatakan keinginannya menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Pernyataan mengejutkan itu disampaikan Trump dalam percakapan telepon bersama Fox News pada Senin (11/5/2026). Dalam wawancara tersebut, Trump secara terbuka mengaku tertarik pada cadangan minyak Venezuela yang diperkirakan bernilai hingga US$40 triliun atau sekitar Rp699.690 triliun.
“Venezuela menyukai Trump,” kata Donald Trump dalam wawancara bersama Fox News.
Trump bahkan mengaku “serius mempertimbangkan” menjadikan Venezuela bagian resmi dari Amerika Serikat. Pernyataan itu langsung memicu reaksi keras dari pemerintah Venezuela dan pengamat geopolitik internasional.
Minyak Venezuela Jadi Faktor Utama
Ketertarikan Trump terhadap Venezuela disebut berkaitan erat dengan cadangan minyak raksasa negara tersebut.
Sejak operasi militer Amerika Serikat yang berujung penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari 2026, Washington dilaporkan mulai aktif menjalin kerja sama dengan sektor energi Venezuela.
Trump sebelumnya juga pernah menyatakan bahwa penguasaan pasokan minyak Venezuela dapat membantu menstabilkan ekonomi negara Amerika Selatan tersebut.
Bahkan, pejabat Gedung Putih disebut beberapa kali bolak-balik ke Caracas untuk membangun kesepakatan dengan perusahaan energi dan pertambangan asal Amerika Serikat.
“Trump disebut ingin perusahaan-perusahaan Amerika mengendalikan minyak Venezuela sebagai bagian dari strategi geopolitik dan ekonomi baru Washington.”
Pernyataan Trump ini menjadi lanjutan dari sejumlah gagasan kontroversial sebelumnya terkait keinginan menganeksasi wilayah lain seperti Kanada, Greenland, Panama, hingga Kuba.
Pemerintah Venezuela Langsung Bereaksi
Pemerintah Venezuela langsung menolak keras gagasan Trump tersebut.
Presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez, menegaskan negaranya tidak akan pernah menjadi bagian dari Amerika Serikat dan akan terus mempertahankan kedaulatan nasional.
“Kami akan terus membela integritas, kedaulatan, kemerdekaan, dan sejarah kami,” tegas Delcy Rodriguez.
Rodriguez juga menegaskan Venezuela bukan koloni, melainkan negara merdeka yang memiliki hak menentukan masa depannya sendiri.
Pernyataan itu disampaikan di tengah sidang sengketa wilayah Essequibo antara Venezuela dan Guyana di Mahkamah Internasional, Den Haag.
Dunia Khawatir AS Kian Agresif
Sejumlah analis menilai ucapan Trump memperlihatkan arah baru kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang semakin agresif dan ekspansionis.
Dalam beberapa bulan terakhir, Trump memang beberapa kali mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait kemungkinan ekspansi wilayah AS.
Pengamat menilai situasi ini berpotensi memperbesar ketegangan geopolitik di kawasan Amerika Latin dan memicu resistensi internasional terhadap Washington.
“Pernyataan Trump dinilai memperlihatkan ambisi geopolitik baru Amerika Serikat di bawah kepemimpinannya.”
Meski demikian, hingga kini belum ada langkah hukum maupun kebijakan resmi dari Gedung Putih terkait rencana menjadikan Venezuela sebagai negara bagian Amerika Serikat.
Secara konstitusional, proses tersebut juga dinilai hampir mustahil dilakukan tanpa persetujuan Kongres AS dan pemerintah Venezuela sendiri.
(*)
Poin Utama Berita
- Donald Trump mengaku serius ingin menjadikan Venezuela negara bagian ke-51 AS.
- Trump menyebut cadangan minyak Venezuela bernilai US$40 triliun sangat menggiurkan.
- Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan Fox News.
- Pemerintah Venezuela langsung menolak keras gagasan tersebut.
- Delcy Rodriguez menegaskan Venezuela tetap negara merdeka dan berdaulat.
- Trump sebelumnya juga pernah melontarkan ide ekspansi ke Kanada dan Greenland.
- Pengamat menilai kebijakan luar negeri AS semakin agresif dan ekspansionis.
- Rencana tersebut dinilai sulit diwujudkan tanpa persetujuan Kongres AS dan Venezuela.

















