Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
HEADLINE NEWSINTERNASIONALPERISTIWA

Trump Klaim Iran Terpecah di Tengah Gencatan Senjata, Siapa Sebenarnya Pengendali Kekuasaan Teheran?

38
×

Trump Klaim Iran Terpecah di Tengah Gencatan Senjata, Siapa Sebenarnya Pengendali Kekuasaan Teheran?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TEHERAN | SENTRAPOS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim pemerintahan Iran tengah mengalami perpecahan internal di tengah memanasnya konflik kedua negara, meski gencatan senjata masih berlangsung dalam kondisi rapuh.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada Selasa (21/4/2026). Ia menyebut kondisi internal Iran menjadi alasan utama penundaan eskalasi militer lanjutan.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

“Pemerintah Iran sangat terpecah belah. Atas permintaan sejumlah pihak, kami menunda serangan hingga mereka dapat menyatukan proposal,” tulis Trump melalui platform Truth Social.

Namun, benarkah Iran tengah terbelah? Analisis situasi menunjukkan dinamika kekuasaan di Teheran jauh lebih kompleks dan tidak sesederhana klaim politik semata.


Mojtaba Khamenei: Pemimpin Baru di Balik Layar

Pasca tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel, posisi Pemimpin Tertinggi Iran kini dipegang oleh putranya, Mojtaba Khamenei.

Kepemimpinan Mojtaba menandai menguatnya faksi garis keras dalam struktur kekuasaan Iran. Meski belum pernah tampil langsung di publik dan dikabarkan masih dalam perawatan, ia tetap aktif mengambil keputusan strategis, termasuk terkait perang dan negosiasi.

Laporan menyebut Mojtaba mengikuti rapat penting melalui konferensi audio dan terus menerima laporan perkembangan situasi dari pejabat tinggi.


Mohammad Ghalibaf: Diplomat Keras di Tengah Tekanan

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, muncul sebagai figur kunci dalam jalur diplomasi dengan Amerika Serikat. Ia memimpin negosiasi awal, namun tetap menunjukkan sikap keras di hadapan publik.

“Kami tidak menerima negosiasi di bawah ancaman. Iran siap membuka kartu baru di medan pertempuran,” tegas Ghalibaf.

Meski demikian, langkahnya menuai kritik dari dalam negeri. Sejumlah pihak bahkan menuduhnya terlalu lunak terhadap AS, sementara kelompok garis keras menilai negosiasi sebagai langkah berisiko.


IRGC: Kekuatan Militer Penentu Arah

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi aktor paling berpengaruh dalam dinamika kekuasaan Iran. Institusi ini mengendalikan kekuatan militer strategis, termasuk drone dan sistem pertahanan udara.

Selama konflik berlangsung, IRGC menunjukkan dominasi dengan melancarkan serangan balasan intensif, termasuk aksi di Selat Hormuz meski dalam masa gencatan senjata.

“Serangan selama gencatan senjata menunjukkan dominasi IRGC atas tim diplomasi,” ujar analis Javad Heiran Nia.

Kondisi ini memperlihatkan adanya perbedaan pendekatan antara jalur militer dan diplomatik dalam tubuh pemerintahan Iran.


Front Paydari: Tekanan Politik dari Kelompok Garis Keras

Selain militer, kelompok politik garis keras seperti Front Paydari turut memainkan peran penting. Mereka dikenal sebagai penjaga ideologi Revolusi Islam 1979 dan cenderung menolak kompromi dengan Barat.

Kelompok ini disebut memanfaatkan momentum negosiasi untuk memperkuat pengaruh politiknya di dalam negeri, sekaligus menekan pemerintahan sipil.


Dinamika Kompleks, Bukan Sekadar Perpecahan

Meski terlihat adanya perbedaan pandangan, para analis menilai situasi di Iran lebih mencerminkan dinamika kekuasaan ketimbang perpecahan total.

Struktur politik Iran yang melibatkan pemimpin tertinggi, militer, parlemen, dan kelompok ideologis membuat proses pengambilan keputusan berjalan kompleks dan berlapis.

Jika kesepakatan dengan AS tercapai, pemerintah diperkirakan akan tetap mengendalikan narasi, sementara IRGC akan menyesuaikan posisi.

“Kesepakatan kemungkinan tetap bersifat kedaulatan. Pemerintah akan mengontrol narasi, dan militer akan menerimanya,” ungkap Heiran Nia.


Gencatan Senjata Masih Rentan

Perpanjangan gencatan senjata belum menjamin stabilitas jangka panjang. Dengan dominasi militer dan tekanan politik internal, masa depan hubungan AS-Iran masih dipenuhi ketidakpastian.

Klaim Trump soal perpecahan Iran bisa jadi memiliki unsur kebenaran, namun realitas di lapangan menunjukkan situasi yang jauh lebih kompleks dan strategis. (*)


Poin Utama Berita

  • Trump klaim Iran terpecah saat umumkan perpanjangan gencatan senjata
  • Mojtaba Khamenei memimpin Iran pasca kematian Ali Khamenei
  • Ghalibaf pimpin negosiasi, namun dikritik keras di dalam negeri
  • IRGC dominan dalam keputusan militer dan strategi perang
  • Front Paydari tekan pemerintah dengan agenda ideologis
  • Analis nilai konflik lebih pada dinamika kekuasaan, bukan perpecahan total
  • Gencatan senjata AS-Iran masih rapuh dan penuh risiko eskalasi
error: Content is protected !!