TEHERAN | SENTRAPOS.CO.ID – Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak. Iran mengambil langkah drastis dengan menembaki dan menyita kapal-kapal dagang internasional, mempertegas eskalasi konflik di jalur strategis energi dunia tersebut.
Pemerintah Iran, Rabu (22/4/2026), mengonfirmasi telah menangkap dua kapal kontainer yang berupaya keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz. Aksi ini menjadi penyitaan pertama sejak perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada awal tahun.
Operasi tersebut dilakukan oleh angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang menegaskan bahwa keamanan selat merupakan “garis merah” yang tidak boleh dilanggar.
“Setiap gangguan terhadap ketertiban dan keamanan di Selat Hormuz akan kami anggap sebagai pelanggaran serius,” tegas IRGC dalam pernyataan resminya.
Jalur Energi Dunia Terancam
Selat Hormuz selama ini menjadi urat nadi distribusi energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melintas setiap hari melalui jalur sempit ini.
Namun, situasi kini berubah drastis. Dari rata-rata 130 kapal per hari, lalu lintas pelayaran menyusut tajam menjadi hanya segelintir kapal akibat meningkatnya risiko keamanan.
“Bahkan Selat Hormuz yang dianggap ‘dibuka’ kini tidak lagi aman bagi kapal, awak, maupun kargo,” ujar Kepala Analis Xeneta, Peter Sand.
Kronologi Penyerangan dan Penyitaan Kapal
Salah satu kapal yang disita adalah MSC Francesca berbendera Panama. Kapal ini dilaporkan ditembaki sekitar delapan mil laut dari wilayah Iran, namun tidak mengalami kerusakan serius.
Sementara itu, kapal Epaminondas berbendera Liberia mengalami serangan lebih berat. Kapal tersebut ditembaki menggunakan senjata berat hingga granat berpeluncur roket oleh kapal cepat IRGC.
Akibat serangan tersebut, bagian anjungan kapal mengalami kerusakan. Meski demikian, seluruh awak kapal yang terdiri dari warga Ukraina dan Filipina dilaporkan selamat.
“Prioritas kami adalah keselamatan awak kapal sambil terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait,” kata Technomar Shipping Inc, operator kapal.
Kapal ketiga, Euphoria, juga sempat menjadi sasaran tembakan, namun berhasil melanjutkan pelayaran hingga mencapai Fujairah, Uni Emirat Arab.
Tuduhan Iran: Pelanggaran dan Manipulasi Navigasi
Iran menuding kapal-kapal tersebut beroperasi tanpa izin resmi dan memanipulasi sistem navigasi mereka saat melintasi Selat Hormuz.
IRGC bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan, sehingga perlu direspons secara tegas.
Sumber keamanan maritim mengungkapkan bahwa beberapa kapal sempat mematikan sistem navigasi saat berlayar, yang memperkuat kecurigaan pihak Iran.
Dampak Global: Ketegangan dan Ketidakpastian
Langkah Iran memperketat kontrol Selat Hormuz terjadi di tengah mandeknya pembicaraan damai dengan Amerika Serikat. Di sisi lain, AS juga telah menerapkan blokade terhadap kapal-kapal Iran.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian besar bagi perdagangan global, khususnya sektor energi.
Jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya bisa merambat ke lonjakan harga minyak dunia hingga gangguan rantai pasok internasional.
Situasi Kian Rawan
Penyitaan kapal ini menjadi sinyal kuat bahwa konflik di kawasan belum mereda. Bahkan, Selat Hormuz yang selama ini dijaga sebagai jalur netral kini berubah menjadi titik panas geopolitik global.
Dengan militer Iran semakin agresif dan negosiasi yang mandek, dunia kini menghadapi ancaman nyata terhadap stabilitas energi dan keamanan pelayaran internasional. (*)
Poin Utama Berita
- Iran tembaki dan sita kapal dagang di Selat Hormuz
- IRGC tegaskan selat sebagai “garis merah” keamanan nasional
- 20% pasokan energi dunia terancam terganggu
- Tiga kapal diserang, dua di antaranya disita Iran
- Lalu lintas kapal turun drastis dari 130 menjadi segelintir
- Iran tuduh kapal manipulasi sistem navigasi
- Konflik AS-Iran picu ketidakpastian global dan risiko krisis energi

















