ABU DHABI | Sentrapos.co.id — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan diam-diam melancarkan operasi militer terhadap Iran di tengah perang regional yang terus membesar sejak pecah pada 28 Februari 2026.
Laporan eksklusif Wall Street Journal menyebut UEA diduga melakukan serangan terhadap fasilitas strategis Iran, termasuk kilang minyak di Pulau Lavan, Teluk Persia, pada awal April 2026 lalu.
Serangan tersebut memicu kebakaran besar dan melumpuhkan sebagian besar kapasitas produksi kilang selama berbulan-bulan.
“Keterlibatan langsung UEA dalam operasi militer terhadap Iran dinilai menjadi titik balik baru konflik Timur Tengah.”
Menurut sumber yang mengetahui operasi tersebut, serangan terjadi bertepatan dengan pengumuman gencatan senjata oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai kampanye udara selama lima pekan di kawasan.
Iran kemudian menuding fasilitas energinya menjadi sasaran serangan musuh sebelum akhirnya meluncurkan balasan berupa rentetan rudal dan drone ke wilayah UEA dan Kuwait.
Iran Hujani UEA Ribuan Rudal dan Drone
Sebelum perang pecah, negara-negara Teluk sebenarnya menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun pangkalan mereka dipakai untuk menyerang Iran.
Namun situasi berubah drastis setelah Teheran mulai menggempur infrastruktur energi dan bandara di kawasan Teluk.
UEA disebut menjadi target utama Iran dengan lebih dari 2.800 rudal dan drone diarahkan ke negara tersebut, bahkan melampaui jumlah serangan terhadap Israel.
Serangan-serangan itu dilaporkan menghantam sektor penerbangan, pariwisata, dan properti UEA hingga memicu gelombang pemutusan hubungan kerja serta cuti tanpa bayaran.
“Iran kini dipandang sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan UEA.”
Pejabat Teluk menyebut perubahan situasi keamanan membuat Abu Dhabi mulai mengambil sikap lebih agresif terhadap Teheran.
UEA Makin Dekat dengan Amerika Serikat
Meski belum mengonfirmasi keterlibatan langsung dalam serangan terhadap Iran, Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan negaranya memiliki hak untuk merespons setiap tindakan bermusuhan, termasuk melalui jalur militer.
Sementara Pentagon dan Gedung Putih juga menolak memberikan komentar detail terkait operasi tersebut.
Namun Washington menegaskan Amerika Serikat tetap memiliki “pengaruh maksimum” terhadap Iran dan siap menghadapi berbagai skenario eskalasi konflik di kawasan.
Analis Timur Tengah sekaligus penulis buku tentang kebangkitan UEA, Dina Esfandiary, menilai keterlibatan Abu Dhabi menjadi perkembangan geopolitik yang sangat signifikan.
“Ini pertama kalinya negara Arab Teluk terlibat langsung menyerang Iran dalam konflik terbuka seperti sekarang.”
Menurutnya, Iran kemungkinan akan mencoba memecah hubungan UEA dengan negara-negara Teluk lain yang masih berupaya menjadi mediator perdamaian.
Jet Tempur dan Drone UEA Diduga Terlibat
Spekulasi soal keterlibatan UEA mulai muncul sejak pertengahan Maret 2026 ketika sebuah jet tempur misterius terekam terbang di atas wilayah Iran.
Peneliti intelijen sumber terbuka kemudian menemukan sejumlah gambar yang diklaim menunjukkan jet Mirage buatan Prancis dan drone Wing Loong buatan China—keduanya merupakan alutsista milik UEA—beroperasi di wilayah Iran.
UEA sendiri diketahui memiliki kekuatan udara paling modern di kawasan Teluk dengan armada jet F-16, Mirage, pesawat pengisian bahan bakar udara, hingga drone pengintai canggih.
Pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Udara AS Dave Deptula menyebut kemampuan udara UEA sangat mumpuni untuk menjalankan operasi serangan presisi.
“Jika memiliki kekuatan udara secanggih itu, sulit membayangkan UEA hanya diam menerima serangan Iran tanpa membalas.”
Selat Hormuz Jadi Titik Paling Berbahaya
Di tengah memanasnya konflik, UEA juga disebut mendukung langkah internasional untuk membuka kemungkinan penggunaan kekuatan demi mematahkan dominasi Iran atas Selat Hormuz.
Selain itu, Abu Dhabi mulai memperketat visa dan jalur ekonomi warga Iran, termasuk menutup sejumlah sekolah dan klub yang terafiliasi dengan Teheran di Dubai.
Langkah tersebut diyakini semakin memperdalam ketegangan antara kedua negara dan meningkatkan risiko konflik regional lebih luas di Timur Tengah.
Situasi ini membuat dunia internasional khawatir perang Iran dapat berkembang menjadi konflik terbuka berskala besar yang melibatkan lebih banyak negara Teluk dan kekuatan global.
(*)
Poin Utama Berita
- UEA diduga diam-diam melancarkan serangan militer terhadap Iran.
- Kilang minyak Iran di Pulau Lavan disebut menjadi target utama serangan.
- Iran membalas dengan ribuan rudal dan drone ke wilayah UEA dan Kuwait.
- Konflik menyebabkan gangguan besar terhadap ekonomi dan keamanan kawasan Teluk.
- UEA disebut semakin dekat secara militer dengan Amerika Serikat.
- Jet Mirage dan drone Wing Loong milik UEA diduga terlibat operasi di Iran.
- Selat Hormuz kembali menjadi titik rawan konflik global.
- Pengamat menilai Timur Tengah berada di ambang perang regional lebih besar.

















