TOKYO | Sentrapos.co.id — Ketegangan geopolitik di kawasan Asia Pasifik kembali memanas setelah Jepang menembakkan rudal dan menenggelamkan kapal perang tua dalam latihan militer gabungan di perairan dekat Filipina dan Taiwan, Rabu (6/5/2026).
Aksi militer tersebut langsung memicu kemarahan China yang menuding Jepang tengah bergerak menuju remiliterisasi dengan dalih kerja sama keamanan regional.
Peluncuran rudal dilakukan dalam rangka latihan perang gabungan bertajuk Balikatan 41-26, yang melibatkan pasukan Amerika Serikat, Jepang, Filipina, Australia, Prancis, Selandia Baru, hingga Kanada.
Latihan militer berskala besar itu berlangsung selama 19 hari dan dijadwalkan berakhir pada Jumat mendatang.
Dalam latihan tersebut, Pasukan Bela Diri Jepang menembakkan dua rudal antikapal Type-88 yang berhasil menghantam kapal korvet milik Angkatan Laut Filipina yang sudah dipensiunkan sebagai target latihan.
Menteri Pertahanan Jepang Koizumi Shinjiro dan Menteri Pertahanan Filipina Gilberto C. Teodoro bahkan hadir langsung menyaksikan peluncuran rudal di Provinsi Ilocos Norte, wilayah yang berjarak sekitar 400 kilometer dari Taiwan.
“Partisipasi berkelanjutan Pasukan Bela Diri Jepang dalam latihan Balikatan melambangkan pendalaman kerja sama operasional antara Jepang dan Filipina,” demikian pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Jepang.
Sebelum latihan berlangsung, kedua menteri pertahanan juga menggelar pertemuan bilateral pada 5 Mei 2026. Dalam pertemuan itu, Jepang dan Filipina sepakat memperkuat kerja sama pertahanan sekaligus mengecam tindakan sepihak di Laut China Selatan dan Laut China Timur.
“Kedua menteri menegaskan kembali penolakan keras terhadap setiap upaya sepihak untuk mengubah status quo dengan kekerasan atau paksaan,” tulis pernyataan resmi Kemhan Jepang.
Latihan militer di dekat Taiwan tersebut langsung memancing reaksi keras dari Beijing. Pemerintah China menilai langkah Jepang sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menuduh kelompok sayap kanan Jepang sedang berupaya menghidupkan kembali kekuatan militer Negeri Sakura.
“Ini contoh lain upaya kelompok sayap kanan Jepang untuk remiliterisasi Jepang,” tegas Lin Jian.
China juga menuding Jepang gagal merefleksikan sejarah agresi militernya di masa lalu dan kini kembali mengirim kekuatan militer ke luar negeri dengan alasan kerja sama keamanan.
Ketegangan ini semakin sensitif karena lokasi latihan berada dekat Taiwan — wilayah yang diklaim China sebagai bagian dari kedaulatannya.
Beijing selama ini menolak segala bentuk dukungan asing terhadap Taiwan yang terus memperkuat hubungan keamanan dengan negara-negara Barat dan sekutu Amerika Serikat.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang memang terus meningkatkan kapasitas militernya dan memperluas kerja sama keamanan dengan negara-negara sekutu di Asia Pasifik, terutama menghadapi meningkatnya pengaruh China di kawasan.
Hubungan Beijing dan Tokyo pun terus memburuk. Bahkan sebelumnya pemerintah China sempat mengimbau warganya untuk mengurangi perjalanan ke Jepang di tengah meningkatnya tensi politik dan keamanan kedua negara.
Situasi ini menambah daftar panjang ketegangan geopolitik di Asia Timur yang kini menjadi salah satu kawasan paling rawan konflik strategis dunia. (*)
Poin Utama Berita
- Jepang menembakkan rudal Type-88 dalam latihan militer Balikatan 41-26.
- Rudal menghantam dan menenggelamkan kapal perang tua Filipina.
- Latihan digelar dekat Taiwan dan melibatkan AS serta negara sekutu lainnya.
- Menhan Jepang dan Filipina menyaksikan langsung peluncuran rudal.
- Jepang dan Filipina sepakat memperkuat kerja sama pertahanan.
- China mengecam keras aksi militer Jepang.
- Beijing menuding Jepang sedang menuju remiliterisasi.
- Ketegangan meningkat karena latihan dilakukan dekat Taiwan.
- Hubungan China dan Jepang terus memanas dalam beberapa tahun terakhir.
- Asia Pasifik kembali menjadi sorotan geopolitik dunia.

















