WASHINGTON | Sentrapos.co.id – Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada Selasa (28/4/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tidak puas terhadap proposal damai terbaru yang diajukan Iran.
Ketegangan geopolitik yang belum mereda antara Amerika Serikat dan Iran membuat pasar energi global kembali bergejolak, terutama karena terganggunya jalur distribusi minyak strategis melalui Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan Reuters, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni naik 45 sen atau 0,4 persen menjadi US$108,68 per barel. Sebelumnya, Brent juga telah melonjak 2,8 persen dan mencatat penutupan tertinggi sejak 7 April serta menguat selama tujuh hari berturut-turut.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Juni naik 58 sen atau 0,6 persen menjadi US$96,96 per barel, setelah sebelumnya naik 2,1 persen.
Seorang pejabat AS pada Senin (27/4) mengungkapkan bahwa Trump belum menerima proposal terbaru dari Iran untuk mengakhiri konflik yang berlangsung.
Kebuntuan ini membuat negosiasi damai belum menghasilkan kesepakatan konkret dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelangsungan pasokan energi dunia.
“Trump tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik,” ungkap pejabat AS sebagaimana dilaporkan Reuters.
Menurut sejumlah sumber dari pihak Iran, Teheran memilih menunda pembahasan program nuklir sampai tercapai kesepakatan terkait penghentian permusuhan dan sengketa pelayaran di kawasan Teluk, termasuk blokade yang dilakukan AS.
Situasi tersebut membuat Iran masih menutup aliran pelayaran minyak dunia melalui Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Selat Hormuz diketahui menjadi jalur utama sekitar 20 persen konsumsi minyak dan gas global. Sebelum konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari lalu, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi jalur tersebut setiap hari.
Kini, data pelacakan kapal menunjukkan gangguan besar terhadap distribusi energi global. Sedikitnya enam kapal tanker minyak Iran dilaporkan terpaksa berbalik arah akibat blokade yang diberlakukan Amerika Serikat.
Meski demikian, satu kapal tanker gas alam cair (LNG) yang dikelola Abu Dhabi National Oil Company dari Uni Emirat Arab dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz dan berada di dekat India pada Senin.
Putaran negosiasi terakhir antara AS dan Iran pekan lalu juga gagal mencapai hasil setelah pembicaraan tatap muka tidak menghasilkan kesepakatan damai.
Analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menilai perhatian pelaku pasar kini bukan lagi pada retorika politik, melainkan pada kelancaran distribusi fisik minyak mentah.
“Bagi para pedagang minyak bukan lagi retorika yang penting, melainkan aliran fisik aktual minyak mentah melalui Selat Hormuz,” kata Fawad.
Ia menambahkan, sekalipun kesepakatan damai tercapai dalam waktu dekat, pemulihan pasokan minyak diperkirakan tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan karena hambatan produksi dan logistik.
Kenaikan harga minyak dunia ini diperkirakan akan berdampak luas terhadap inflasi global, harga BBM, biaya logistik, hingga stabilitas ekonomi internasional dalam beberapa pekan ke depan. (*)
3. Poin Utama Berita
- Harga minyak dunia naik setelah Trump menolak proposal damai Iran
- Brent naik menjadi US$108,68 per barel, WTI menyentuh US$96,96
- Negosiasi damai AS-Iran masih buntu dan belum menghasilkan kesepakatan
- Iran masih menutup jalur strategis Selat Hormuz
- Selat Hormuz menjadi jalur 20 persen pasokan minyak dan gas global
- Enam kapal tanker minyak Iran terpaksa berbalik arah akibat blokade
- Pasar global kini fokus pada kelancaran distribusi fisik minyak dunia

















