TEHERAN | Sentrapos.co.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam. Iran secara terbuka mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz jika Washington terus melakukan intervensi militer di kawasan tersebut.
Ancaman keras itu disampaikan oleh Mohsen Rezaei, penasihat militer yang ditunjuk oleh Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan kepada televisi pemerintah Iran.
“Kapal-kapal Anda akan ditenggelamkan oleh rudal pertama kami. Mereka berada dalam jangkauan dan bisa kami hancurkan,” tegas Rezaei, Rabu (15/4/2026).
Blokade AS Picu Eskalasi
Ketegangan ini dipicu langkah Donald Trump yang memerintahkan blokade militer di sekitar Selat Hormuz. Kebijakan ini diambil setelah Iran lebih dulu menutup jalur strategis tersebut selama enam minggu konflik berlangsung.
“Apakah tugas AS menjadi polisi di Selat Hormuz?” sindir Rezaei, mempertanyakan legitimasi operasi militer Washington.
Blokade tersebut dilakukan setelah gagalnya perundingan damai AS-Iran di Islamabad, yang sebelumnya diharapkan menjadi jalan keluar konflik.
Ancaman Meluas: Sandera hingga Invasi
Dalam pernyataan yang semakin provokatif, Rezaei bahkan menyebut Iran siap menyandera ribuan tentara AS jika terjadi invasi darat.
“Untuk setiap sandera, kami bisa menuntut hingga US$1 miliar,” ujarnya.
Pernyataan ini mempertegas sikap keras Iran yang menolak memperpanjang gencatan senjata.
Jalur Energi Dunia Lumpuh
Konflik ini berdampak langsung pada jalur perdagangan global. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya 279 kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz sejak 28 Februari hingga 12 April—jauh di bawah rata-rata normal sekitar 100 kapal per hari.
Sejak gencatan senjata berlaku 8 April, hanya 45 kapal yang dapat melintas dengan aman, sementara ratusan kapal lainnya masih tertahan di Teluk.
Tak hanya itu, sedikitnya 22 kapal dilaporkan menjadi korban serangan di berbagai perairan, termasuk di Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, hingga Arab Saudi.
Harga Minyak Melonjak, Dunia Terancam Krisis Energi
Blokade dan konflik bersenjata ini turut memicu lonjakan harga minyak dunia hingga sekitar 50 persen sejak awal perang. Dampaknya mulai dirasakan berbagai negara dalam bentuk tekanan ekonomi dan ancaman krisis energi.
Meski demikian, militer AS melalui Komando Pusat (CENTCOM) menegaskan bahwa blokade dilakukan untuk menekan Iran kembali ke meja perundingan.
Jalur Alternatif Dibuka
Di tengah ketegangan, Iran melalui Garda Revolusi membuka jalur alternatif pelayaran di sekitar Pulau Larak dan Pulau Qeshm. Beberapa kapal tanker dilaporkan berhasil melintas melalui rute ini setelah adanya kesepakatan gencatan senjata terbatas.
Namun, situasi di kawasan tetap dinilai sangat rentan dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas jika tidak segera diredam melalui diplomasi. (*)
Poin Utama Berita
- Iran ancam tenggelamkan kapal AS di Selat Hormuz
- Blokade militer AS picu eskalasi konflik Timur Tengah
- Pernyataan keras Iran termasuk ancaman sandera militer
- Hanya 279 kapal melintas, jauh di bawah kondisi normal
- 22 kapal dilaporkan diserang selama konflik
- Harga minyak dunia naik hingga 50 persen
- Jalur alternatif dibuka, namun situasi tetap rawan

















