WASHINGTON | Sentrapos.co.id — Polemik program nuklir Iran terus menjadi sorotan global. Sejak Revolusi Iran 1979, Amerika Serikat konsisten menuding Teheran mengembangkan senjata nuklir, meski fakta sejarah menunjukkan Washington pernah menjadi pihak yang justru mendorong program tersebut.
Hubungan kedua negara berubah drastis setelah jatuhnya rezim Shah Reza Pahlavi. Padahal sebelumnya, kerja sama nuklir antara AS dan Iran telah berlangsung erat melalui program “Atoms for Peace” sejak 1957.
Dalam program tersebut, AS tidak hanya memberikan dukungan teknis, tetapi juga memasok reaktor riset berkapasitas 5 megawatt dan uranium tingkat tinggi ke Teheran pada 1967.
“Amerika Serikat memberikan dorongan awal bagi program nuklir Iran melalui kerja sama di bawah program Atom untuk Perdamaian Presiden Dwight Eisenhower pada 1957,” tulis Arms Control Association.
Seiring waktu, Iran bahkan merancang ambisi besar membangun lebih dari 20 reaktor nuklir untuk kebutuhan energi nasional.
Namun, arah politik berubah total pascarevolusi 1979. Pemerintahan baru Iran tetap melanjutkan program nuklir, meski awalnya sempat ditentang oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini karena alasan teologis.
Perubahan signifikan terjadi setelah wafatnya Khomeini pada 1989. Pemimpin tertinggi baru, Ayatollah Ali Khamenei, mulai memperluas aktivitas nuklir Iran, termasuk program yang tidak diumumkan ke publik internasional.
“Kemampuan nuklir Iran dapat digunakan untuk energi damai maupun pengembangan senjata, tergantung arah kebijakan politiknya,” ungkap analisis berbagai lembaga internasional.
Ironisnya, sebelum hubungan memburuk, AS justru memasok material nuklir dalam jumlah besar ke Iran. Data Oxford Research Group mencatat, Washington mengirim lebih dari 5.500 kg uranium dan ratusan kilogram plutonium untuk mendukung reaktor riset Iran.
Analis Sabrina Sergi menyebut dukungan tersebut bukan sekadar kerja sama teknologi, melainkan bagian dari strategi geopolitik AS untuk mengontrol Iran sebagai negara penghasil minyak utama dunia.
Sementara itu, analis International Crisis Group, Ali Vaez, menilai kerja sama tersebut juga bertujuan agar AS dapat mengawasi langsung perkembangan nuklir Iran agar tidak berujung pada senjata pemusnah massal.
Di sisi lain, ketegangan terus meningkat karena faktor keamanan regional. Iran merasa terancam oleh kebijakan luar negeri AS dan sekutunya.
“Iran memiliki alasan untuk khawatir terhadap keamanannya, terutama dengan kehadiran kekuatan militer AS di kawasan,” kata Robert E. Hunter, mantan Duta Besar AS untuk NATO.
Ia juga menegaskan bahwa kebijakan perubahan rezim di Teheran telah lama menjadi bagian dari strategi Amerika Serikat dan sekutunya.
Hingga kini, isu nuklir Iran tetap menjadi salah satu konflik geopolitik paling kompleks di dunia. Pertanyaan besar pun terus muncul: mengapa Iran menjadi fokus utama, sementara negara lain dengan senjata nuklir tidak mendapatkan tekanan yang sama? (*)
Poin Utama Berita
- AS pernah menjadi pihak yang memulai program nuklir Iran melalui “Atoms for Peace”
- Iran menerima reaktor nuklir dan pasokan uranium dari AS sejak 1957
- Hubungan memburuk drastis setelah Revolusi Iran 1979
- Program nuklir Iran berkembang lebih luas pasca kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei
- AS menuding Iran mengembangkan senjata nuklir, meski sebelumnya mendukung program tersebut
- Faktor geopolitik, energi, dan keamanan regional menjadi alasan utama konflik
- Isu nuklir Iran tetap menjadi polemik global hingga saat ini

















