Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
HUKUM & KRIMINALINVESTIGASI & SOROTPERISTIWA

Kematian Prajurit TNI AL di KRI Radjiman Jadi Sorotan, Keluarga Tolak Disebut Bunuh Diri: TNI AL Buka Suara

29
×

Kematian Prajurit TNI AL di KRI Radjiman Jadi Sorotan, Keluarga Tolak Disebut Bunuh Diri: TNI AL Buka Suara

Sebarkan artikel ini
KRI Radjiman
KRI Radjiman
Example 468x60

BANGKALAN | Sentrapos.co.id — Kematian prajurit tamtama baru TNI Angkatan Laut (TNI AL), Kelasi Dua (KLD) Ghofirul Kasyfi (22), di atas KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat memicu sorotan publik setelah pihak keluarga menemukan sejumlah kejanggalan pada kondisi jenazah korban.

Keluarga korban mempertanyakan penyebab kematian yang disebut akibat bunuh diri, sementara TNI AL melalui Komando Armada (Koarmada) I menegaskan hasil visum menyatakan korban meninggal murni karena gantung diri dan bukan akibat kekerasan.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Ayah korban, Mahbub Madani, mengaku melihat luka lebam di beberapa bagian tubuh putranya saat jenazah dipulangkan ke rumah duka di Bangkalan, Jawa Timur.

“Buka wajahnya saja sudah kelihatan lebam di bawah mata,” ujar Mahbub Madani, Kamis (7/5/2026).

Mahbub juga mengaku menemukan kondisi yang menurutnya janggal sebelum proses pemakaman berlangsung.

“Paginya kami cek lagi sebelum pemakaman, dibuka di bagian depan saja sudah banyak lebam,” katanya.

Keluarga merasa tidak yakin dengan penjelasan bahwa korban meninggal akibat gantung diri. Mahbub menyebut putranya sebelumnya pernah mengeluh mendapat perlakuan keras dari senior selama bertugas.

Ia pun mendesak dilakukan autopsi menyeluruh guna memastikan penyebab pasti kematian anaknya.

“Saya betul-betul tidak terima anak saya dibilang bunuh diri. Saya ingin jenazah anak saya harus diautopsi,” tegas Mahbub.

Menanggapi polemik tersebut, TNI AL melalui Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada I Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa memberikan klarifikasi resmi.

Koarmada I menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya prajurit muda tersebut sekaligus membantah adanya dugaan kekerasan fisik terhadap korban.

“Berdasarkan hasil visum et repertum resmi RSPAL dr. Mintohardjo Jakarta, tidak ditemukan lebam akibat kekerasan benda tumpul,” jelas Kolonel Ary Mahayasa.

Menurut Ary, hasil pemeriksaan medis juga tidak menemukan adanya pendarahan pada area selangkangan sebagaimana informasi yang beredar di masyarakat.

Ia menjelaskan, luka pada bagian leher korban merupakan luka tekan melingkar yang secara medis identik dengan kasus gantung diri.

“Penyebab kematian almarhum adalah murni akibat gantung diri, bukan karena tindakan kekerasan,” tegasnya.

Koarmada I juga menyatakan proses visum dilakukan dengan dokumentasi lengkap dan turut disaksikan pihak keluarga korban.

Selain itu, TNI AL mengungkapkan bahwa ibu kandung korban disebut telah menolak proses autopsi dan menuangkannya dalam dokumen resmi tertanggal 30 April 2026.

Terkait luka lebam yang terlihat pada tubuh jenazah, TNI AL menjelaskan kondisi tersebut merupakan Livor Mortis atau perubahan pascakematian akibat pengendapan darah karena gravitasi setelah sirkulasi darah berhenti.

Ghofirul Kasyfi diketahui meninggal di atas KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat pada 26 April 2026 dan dimakamkan secara militer sehari kemudian di TPU Kemayoran, Bangkalan.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik setelah muncul perbedaan pandangan antara pihak keluarga dan institusi TNI AL terkait penyebab kematian korban.

Publik pun menyoroti pentingnya transparansi dan investigasi menyeluruh agar polemik yang berkembang tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan di tengah masyarakat. (*detik.com)


Poin Utama Berita

  • Prajurit TNI AL Ghofirul Kasyfi meninggal di KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat.
  • Keluarga menemukan luka lebam pada tubuh korban.
  • Ayah korban menolak penjelasan bahwa anaknya bunuh diri.
  • Keluarga meminta dilakukan autopsi menyeluruh.
  • TNI AL menyatakan hasil visum tidak menemukan tanda kekerasan.
  • Koarmada I menegaskan penyebab kematian akibat gantung diri.
  • TNI AL menyebut luka lebam merupakan Livor Mortis pascakematian.
  • Ibu kandung korban disebut menolak autopsi secara resmi.
  • Kasus memicu sorotan publik terkait transparansi penyelidikan.
  • Jenazah korban dimakamkan secara militer di Bangkalan.