JAKARTA | Sentrapos.co.id — Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, akhirnya buka suara usai menjalani masa penahanan selama tujuh bulan. Dalam pernyataannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, ia menyampaikan permohonan maaf sekaligus refleksi mendalam atas perjalanan kariernya di pemerintahan.
“Saya sudah 7 bulan di penjara dan bersyukur bahwa semua tuduhan tidak terbukti,” ujar Nadiem dalam keterangannya, Jumat (17/4/2026).
ADVERTISEMENTADVERTISEMENT
Dalam pengakuannya, Nadiem menilai dirinya belum sepenuhnya memahami kultur birokrasi saat pertama kali menjabat sebagai menteri. Ia mengakui membawa banyak tenaga profesional dari luar pemerintahan yang justru memicu gesekan internal.
“Saya mungkin tidak selalu menghormati budaya birokrasi. Saya membawa banyak profesional muda yang menciptakan gesekan,” tegasnya.
Lebih jauh, Nadiem juga mengakui kekurangannya dalam membangun komunikasi politik dan sosial. Ia menilai terlalu fokus pada profesionalisme kerja, namun mengabaikan pendekatan komunikasi dengan berbagai pihak.
“Saya kurang santun dalam penyampaian, kurang menghormati, dan kurang menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat maupun politik,” ungkapnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa seorang pejabat publik tidak hanya dituntut bekerja secara teknokratis, tetapi juga harus memiliki sensitivitas politik dan sosial.
Kasus yang menjerat Nadiem berkaitan dengan dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook di Kemendikbudristek yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp2,1 triliun. Ia didakwa bersama tiga terdakwa lainnya, yakni Ibrahim Arief, Mulyatsyah, dan Sri Wahyuningsih.
Dalam dakwaan, Nadiem disebut turut memperkaya diri hingga Rp809,5 miliar serta diduga menyalahgunakan kewenangan dengan mengarahkan spesifikasi pengadaan agar menguntungkan ekosistem tertentu.
Meski demikian, Nadiem menegaskan tetap optimistis terhadap proses hukum yang berjalan.
“Saya tetap percaya bahwa keadilan akan menjadi dasar di negara yang saya cintai ini,” katanya.
Ia juga mengaku masa penahanan menjadi pengalaman berat, terutama karena harus berpisah dari keluarga. Namun, hal itu dijadikannya sebagai momentum refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik ke depan. (*)
Poin Utama Berita
- Nadiem Makarim minta maaf usai 7 bulan menjalani penahanan
- Akui tidak memahami budaya birokrasi saat menjabat menteri
- Soroti kesalahan dalam komunikasi politik dan sosial
- Terseret kasus dugaan korupsi Chromebook Rp2,1 triliun
- Didakwa memperkaya diri Rp809,5 miliar
- Tetap optimistis terhadap keadilan hukum di Indonesia

















