Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
DAERAHINVESTIGASI & SOROTPERISTIWAWISATA & KULINER

Polemik Chattra Borobudur Memanas! Fadli Zon Tantang Debat, Akademisi dan ICOMOS Angkat Suara

31
×

Polemik Chattra Borobudur Memanas! Fadli Zon Tantang Debat, Akademisi dan ICOMOS Angkat Suara

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MAGELANG | Sentrapos.co.id — Polemik rencana pemasangan chattra (penutup berbentuk payung) di stupa induk Candi Borobudur kembali memanas. Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara terbuka menantang pihak-pihak yang menolak kebijakan tersebut untuk berdebat secara langsung.

Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon saat kunjungan di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (3/5/2026) malam.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

“Kami biasa berdebat. Ayo kita berdebat apa yang menjadi keberatan,” tegas Fadli Zon.

Penolakan dari Akademisi hingga ICOMOS

Penolakan terhadap pemasangan chattra datang dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan ICOMOS Indonesia, lembaga penasihat UNESCO.

Dalam surat resmi kepada Komite Warisan Dunia UNESCO, ICOMOS menyoroti sejumlah hal krusial:

  • Kurangnya transparansi pemerintah
  • Tidak adanya konsultasi publik memadai
  • Belum dilakukan heritage impact assessment (HIA)

Selain itu, ICOMOS juga meragukan dasar historis pemasangan chattra yang hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli.

“Intervensi pada situs warisan dunia harus berbasis kajian ilmiah yang kuat,” menjadi sorotan utama dalam kritik tersebut.

Klaim Pemerintah: Sudah Libatkan Ahli

Fadli Zon menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan diskusi dengan berbagai pihak, termasuk budayawan, sejarawan, dan arkeolog.

Ia menyebut pemasangan chattra sejalan dengan konsep living heritage yang didorong UNESCO, yaitu menghidupkan kembali fungsi simbolik situs bersejarah.

Material Baru: Lebih Ringan dari Versi Lama

Berbeda dari rencana sebelumnya, chattra yang akan dipasang dirancang menggunakan bahan perunggu dengan bobot lebih ringan.

“Kalau dulu beratnya berton-ton, sekarang kurang dari satu ton karena menggunakan perunggu,” jelas Fadli Zon.

Sejarah dan Kontroversi Chattra

Rencana pemasangan chattra bukan isu baru. Pada awal abad ke-20, arkeolog Belanda Theodoor van Erp sempat memasangnya saat restorasi, namun kemudian mencopotnya kembali.

Fakta penting yang menjadi dasar penolakan:

  • Hanya 9 dari 52 relief Borobudur yang menampilkan chattra
  • Chattra umumnya digunakan pada stupa relik, bukan Dharmakaya seperti Borobudur
  • Ada dugaan rekonstruksi sebelumnya tidak sepenuhnya akurat

“Stupa tidak harus ber-chattra. Ini harus dilihat secara ilmiah, bukan asumsi,” tegas kalangan arkeolog.

Potensi Konflik dan Sorotan Publik

Perdebatan ini berpotensi memicu konflik antara pemerintah, akademisi, dan komunitas pelestari budaya.

Sebelumnya, isu ini juga sempat viral di media sosial dengan tagar #PrayForBorobudur, menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap pelestarian situs warisan dunia. (*)


Poin Utama Berita

  • Fadli Zon tantang debat terbuka soal pemasangan chattra Borobudur
  • ICOMOS dan akademisi menolak, soroti kurangnya kajian ilmiah
  • Pemerintah klaim sudah libatkan ahli dan dorong konsep living heritage
  • Chattra akan dibuat dari perunggu, lebih ringan dari versi lama
  • Sejarah menunjukkan chattra pernah dipasang lalu dicopot
  • Potensi konflik antara pelestarian dan rekonstruksi budaya
  • Isu kembali viral dan jadi perhatian publik luas
error: Content is protected !!