Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
BIROKRASIPENDIDIKAN & KESEHATANPERISTIWA

Strategi Baru Surabaya Tekan Kenakalan Remaja, DP3APPKB Terapkan Pembinaan Intensif di Rumah Aman

44
×

Strategi Baru Surabaya Tekan Kenakalan Remaja, DP3APPKB Terapkan Pembinaan Intensif di Rumah Aman

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SURABAYA | Sentrapos.co.id – Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) mengubah pola penanganan kenakalan remaja dengan pendekatan yang lebih terstruktur, edukatif, dan berkelanjutan.

Langkah ini dinilai efektif. Bahkan, tren kenakalan remaja di Kota Surabaya dilaporkan mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Kepala DP3APPKB Kota Surabaya, Ida Widayati, menegaskan bahwa perubahan pendekatan menjadi faktor kunci keberhasilan tersebut, selain kebijakan pembatasan aktivitas malam hari.

“Tren kenakalan remaja di Surabaya mengalami perbaikan cukup drastis,” ujar Ida, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, sebelumnya anak-anak yang terjaring razia hanya menjalani konseling singkat di markas Satpol PP sebelum dipulangkan. Namun kini, pola tersebut diubah menjadi pembinaan intensif melalui program “Rumah Aman”.

Remaja yang terlibat kasus seperti konsumsi minuman keras, tawuran, hingga keterlibatan geng motor tidak lagi langsung dipulangkan. Mereka terlebih dahulu menjalani pembinaan selama periode tertentu.

“Kami ubah polanya. Tidak hanya konseling singkat, tetapi ada edukasi yang lebih mendalam, mulai dari dampak kriminalitas, bahaya narkoba, hingga penguatan wawasan kebangsaan,” tegasnya.

Program pembinaan di Rumah Aman berlangsung selama 7 hingga 14 hari. Selama masa tersebut, para remaja tidak hanya mendapatkan pendampingan psikologis, tetapi juga tetap difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan melalui sistem pembelajaran daring.

Pemkot Surabaya bahkan memberikan kelonggaran kepada pihak sekolah agar siswa yang menjalani pembinaan tetap dapat mengikuti proses belajar tanpa terputus.

Program ini telah berjalan sejak pertengahan tahun lalu dan mulai menunjukkan hasil nyata. Jumlah remaja yang harus menjalani pembinaan dilaporkan terus menurun.

Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran serta efek jera dari pendekatan yang lebih komprehensif dan humanis.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga memperkuat peran keluarga dan lingkungan melalui edukasi kepada orang tua agar pengawasan terhadap anak lebih optimal.

Kombinasi kebijakan preventif seperti jam malam dan pembinaan intensif dinilai mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perkembangan generasi muda.

“Kami berharap anak-anak muda bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan positif. Perilaku negatif tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga mempengaruhi kondisi psikologis dan masa depan mereka,” pungkas Ida. (*)


Poin Utama Berita

  • Pemkot Surabaya ubah pola penanganan kenakalan remaja
  • DP3APPKB terapkan pembinaan intensif melalui program Rumah Aman
  • Durasi pembinaan berlangsung 7–14 hari dengan pendampingan psikologis
  • Remaja tetap bisa sekolah melalui sistem pembelajaran daring
  • Tren kenakalan remaja di Surabaya menurun signifikan
  • Kebijakan jam malam dan edukasi orang tua jadi faktor pendukung
  • Pendekatan dinilai lebih efektif, edukatif, dan berkelanjutan