JAKARTA | SENTRAPOS.CO.ID – Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkap bahwa World Bank telah menyampaikan permintaan maaf terkait proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya sebesar 4,7 persen.
Permintaan maaf tersebut disampaikan saat pertemuan dengan sejumlah investor global di New York dan Washington DC, Amerika Serikat.
“Enggak ada yang bilang pertumbuhan kita cuma 4,7%. Itu World Bank, dan saat ketemu di sana mereka minta maaf,” tegas Purbaya di Kementerian Keuangan, Selasa (21/4/2026).
Proyeksi Dinilai Terlalu Rendah
Purbaya menilai prediksi yang disusun Bank Dunia terlalu rendah dan tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat.
“Saya bilang, forecast-nya terlalu rendah. Saya akan buktikan bahwa itu salah,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung bahwa laporan tersebut bahkan memicu reaksi keras dari negara lain, termasuk China, karena dinilai tidak melalui proses diskusi internal yang matang sebelum dipublikasikan.
Pemerintah Yakin Ekonomi RI Lebih Kuat
Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen, bahkan optimistis dapat mencapai 5,5 hingga 5,6 persen.
Keyakinan ini didasarkan pada berbagai reformasi struktural yang telah dilakukan sebelum tekanan global meningkat, seperti reformasi perpajakan, bea cukai, dan penguatan APBN.
“Sebelum gejolak global, kita sudah perbaiki ekonomi. APBN kita kuat, itu yang menjaga pertumbuhan tetap stabil ke depan,” jelasnya.
Faktor Harga Minyak Jadi Sorotan
Purbaya menilai kesalahan proyeksi Bank Dunia kemungkinan disebabkan oleh asumsi harga minyak global yang tinggi.
Menurutnya, jika harga minyak kembali normal, maka prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan ikut direvisi naik.
“Kalau harga minyak turun ke level normal, mereka pasti akan ubah prediksinya,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut proyeksi tersebut telah menimbulkan sentimen negatif terhadap ekonomi Indonesia.
Indonesia Tetap Tahan di Tengah Tekanan Global
Dalam laporan terbaru, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik akan melambat pada 2026.
Meski demikian, Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan dibanding negara lain di kawasan, dengan konsumsi domestik tetap menjadi motor utama pertumbuhan.
Pemerintah pun optimistis, dengan penguatan sistem keuangan dan peningkatan iklim investasi, pertumbuhan ekonomi nasional akan tetap terjaga dan bahkan melampaui proyeksi lembaga internasional. (*)
Poin Utama Berita
- Bank Dunia minta maaf ke Menkeu Purbaya terkait proyeksi 4,7%
- Purbaya nilai prediksi terlalu rendah dan tidak akurat
- Pemerintah targetkan pertumbuhan ekonomi di atas 5%
- Reformasi ekonomi jadi dasar optimisme pemerintah
- Harga minyak global disebut faktor utama kesalahan proyeksi
- Proyeksi Bank Dunia dinilai picu sentimen negatif
- Indonesia tetap stabil di tengah tekanan ekonomi global

















