Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
INVESTIGASI & SOROTPERISTIWASOSIAL POLITIK

Habiburokhman Balas Kritik Dino Patti Djalal soal Prabowo: Tidak Produktif dan Cenderung Bernuansa Politik

35
×

Habiburokhman Balas Kritik Dino Patti Djalal soal Prabowo: Tidak Produktif dan Cenderung Bernuansa Politik

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ketua Komisi III DPR Nilai Kritik Soal Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo Tidak Berdasarkan Informasi Akurat, Tegaskan Diplomasi Aktif Sangat Dibutuhkan

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Polemik mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik. Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, merespons kritik yang sebelumnya dilontarkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Dino Patti Djalal, terkait frekuensi perjalanan diplomatik Presiden ke berbagai negara.

Meski menegaskan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi, Habiburokhman menilai kritik yang disampaikan Dino tidak produktif karena dianggap tidak didasarkan pada informasi yang utuh dan akurat.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Menurut politikus Partai Gerindra tersebut, pemerintahan Presiden Prabowo tetap terbuka terhadap berbagai masukan, termasuk dari mantan pejabat negara yang pernah memiliki pengalaman di bidang diplomasi dan hubungan internasional.

“Di era demokrasi dan keterbukaan, tentu kita senantiasa membuka diri terhadap kritik, termasuk dari mantan pejabat tinggi negara seperti Dino Patti Djalal,” ujar Habiburokhman dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026).

Namun demikian, ia menilai kritik yang disampaikan Dino kali ini tidak memberikan kontribusi yang konstruktif terhadap upaya penguatan kebijakan luar negeri Indonesia.

Kritik Dinilai Tidak Berdasarkan Fakta yang Utuh

Habiburokhman secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pandangan Dino yang menyoroti banyaknya agenda kunjungan luar negeri Presiden Prabowo.

Menurutnya, kritik tersebut cenderung bernuansa politis dan tidak sepenuhnya berpijak pada informasi yang komprehensif mengenai kebutuhan diplomasi Indonesia di tengah dinamika global saat ini.

“Kritik tersebut tidak produktif karena tidak berbasis informasi yang akurat. Bahkan terdapat kecenderungan menjadi serangan politik yang membabi buta dan sekadar mengolok-olok pemerintahan Presiden Prabowo,” tegas Habiburokhman.

Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara kalangan pemerintah dan sejumlah mantan pejabat terkait strategi diplomasi yang dijalankan Indonesia saat ini.

Diplomasi Aktif Dinilai Lebih Penting di Tengah Ketidakpastian Global

Habiburokhman juga menanggapi usulan Dino yang menyarankan agar Presiden Prabowo lebih banyak mengundang pemimpin negara lain ke Indonesia dibanding melakukan kunjungan langsung ke luar negeri.

Menurutnya, pendekatan tersebut kurang relevan dengan kondisi geopolitik global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.

Ia menegaskan bahwa seorang kepala negara harus mampu menjalankan diplomasi aktif melalui berbagai jalur, baik menerima tamu negara maupun melakukan kunjungan langsung ke negara sahabat.

“Presiden Prabowo justru harus sangat proaktif, baik menerima kunjungan maupun mengunjungi pemimpin negara lain demi memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia,” katanya.

Habiburokhman bahkan mencontohkan sejumlah pemimpin dunia yang tetap aktif melakukan diplomasi langsung guna memperkuat posisi negaranya dalam berbagai isu internasional.

Menurutnya, kunjungan luar negeri merupakan bagian penting dari strategi membangun kerja sama ekonomi, investasi, perdagangan, pertahanan, hingga stabilitas kawasan.

Soroti Etika Mantan Pejabat Mengkritik Penerusnya

Selain menanggapi substansi kritik, Habiburokhman juga menyoroti aspek etika dalam penyampaian kritik oleh mantan pejabat publik.

Ia berpendapat bahwa sebagai mantan Wamenlu, Dino Patti Djalal seharusnya lebih berhati-hati dalam memberikan penilaian terhadap kebijakan luar negeri yang sedang dijalankan pemerintah.

Menurutnya, di sejumlah negara maju terdapat tradisi di mana mantan pejabat negara membatasi diri untuk mengkritik penerus mereka secara terbuka sebagai bentuk penghormatan terhadap pejabat yang sedang menjalankan amanah.

“Di banyak negara maju, mantan pejabat cenderung membatasi diri dalam mengkritik penerusnya sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang sedang bekerja menjalankan tugas negara,” ujar Habiburokhman.

Ia menambahkan bahwa kritik dari mantan pejabat terkadang justru dapat menjadi bumerang apabila publik mulai membandingkan rekam jejak dan kinerja antara pejabat terdahulu dengan pejabat yang sedang menjabat saat ini.

Perdebatan Diplomasi Prabowo Jadi Sorotan Publik

Perdebatan mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo menjadi salah satu isu yang menarik perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir.

Sebagian kalangan menilai diplomasi aktif diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global. Namun, sebagian lainnya berpendapat bahwa pemerintah perlu menyeimbangkan agenda internasional dengan fokus pada penyelesaian persoalan domestik.

Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, pemerintah menegaskan bahwa seluruh agenda kunjungan Presiden dilakukan dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional dan memperluas kerja sama strategis Indonesia dengan berbagai negara mitra. (*)

Poin Utama Berita

  • Habiburokhman merespons kritik Dino Patti Djalal terkait kunjungan luar negeri Presiden Prabowo.
  • Ketua Komisi III DPR menilai kritik tersebut tidak produktif dan tidak berbasis informasi yang akurat.
  • Pemerintah disebut tetap terbuka terhadap kritik sebagai bagian dari demokrasi.
  • Habiburokhman menilai Presiden Prabowo perlu menjalankan diplomasi aktif di tengah ketidakpastian global.
  • Usulan agar Presiden lebih banyak menerima tamu negara dibanding berkunjung ke luar negeri dinilai kurang tepat.
  • Diplomasi langsung dianggap penting untuk memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia.
  • Habiburokhman juga menyoroti etika mantan pejabat dalam mengkritik penerusnya.
  • Polemik diplomasi Presiden Prabowo menjadi perhatian publik dan kalangan politik nasional.