Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
PENDIDIKAN & KESEHATANPERISTIWASOSIAL POLITIK

Hardiknas 2026, Sri Untari: Pendidikan Harus Bangun Kesadaran Sosial—Bukan Sekadar Nilai dan Ranking

28
×

Hardiknas 2026, Sri Untari: Pendidikan Harus Bangun Kesadaran Sosial—Bukan Sekadar Nilai dan Ranking

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SURABAYA | Sentrapos.co.id — Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, menegaskan momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 harus dimaknai sebagai titik refleksi mendalam terhadap arah pendidikan nasional di tengah perubahan global yang semakin kompleks.

Menurutnya, sistem pendidikan tidak boleh lagi hanya berorientasi pada capaian akademik semata, melainkan harus mampu membentuk manusia yang memiliki kesadaran sosial, kepedulian lingkungan, dan komitmen kebangsaan.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

“Anak-anak kita tidak cukup hanya pintar secara akademik. Mereka harus peka terhadap penderitaan masyarakat, sadar lingkungan, dan punya komitmen pada bangsa,” tegas Untari, Sabtu (2/5/2026).

Tantangan Global: Pendidikan Harus Berubah

Untari menyoroti berbagai tantangan global yang kini dihadapi dunia, mulai dari krisis iklim, ketimpangan ekonomi, disrupsi teknologi, hingga konflik geopolitik.

Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut pendidikan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan kemampuan adaptasi tinggi.

“Pendidikan harus menyadarkan manusia, bukan hanya mencerdaskan,” ujarnya.

Kritik Sistem: Terlalu Fokus Ranking dan Angka

Ia mengingatkan bahwa sistem pendidikan yang terlalu menitikberatkan pada angka, ranking, dan kompetisi sempit berisiko melahirkan generasi individualistik.

Padahal, Indonesia membutuhkan generasi yang kompetitif sekaligus kolaboratif.

“Ke depan, kita butuh generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga matang secara emosional dan sosial,” tambahnya.

Alarm Data: Pengangguran Lulusan Masih Tinggi

Untari juga menyinggung data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur yang menunjukkan tingkat pengangguran terbuka sebesar 3,61% pada Februari 2025.

Ironisnya, lulusan SMK justru mencatat angka tertinggi (5,87%), disusul lulusan universitas (5,60%).

Fakta ini dinilai sebagai indikasi adanya ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.

Pendidikan Harus Cetak Problem Solver, Bukan Pencari Kerja

Menurut Untari, paradigma pendidikan harus bergeser dari sekadar mencetak pencari kerja menjadi pencipta solusi.

“Sekolah dan kampus harus melahirkan inovator, wirausahawan sosial, dan penggerak masyarakat,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya pembelajaran berbasis praktik sosial, seperti pengabdian masyarakat, kewirausahaan, hingga pemahaman langsung terhadap realitas desa, nelayan, petani, dan UMKM.

Ancaman Era Digital: Generasi Rentan Hoaks

Untari juga mengingatkan bahaya era digital yang membuat generasi muda mudah terpapar informasi tanpa verifikasi.

“Anak-anak cepat menerima informasi, tapi belum tentu mampu memverifikasi. Ini berbahaya,” katanya.

Karena itu, literasi kritis dan pendidikan karakter harus menjadi prioritas dalam kurikulum nasional.

Guru Jadi Kunci Perubahan

Dalam kesempatan tersebut, Untari menegaskan bahwa peran guru sangat krusial dalam menciptakan generasi berkualitas.

Ia meminta pemerintah memberi perhatian serius terhadap kesejahteraan dan peningkatan kapasitas guru.

“Tidak mungkin kita bicara generasi emas jika gurunya belum dimuliakan,” ujarnya.

Bonus Demografi: Peluang atau Ancaman

Untari menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa bonus demografi Indonesia dalam dua dekade mendatang bisa menjadi peluang besar atau justru bencana sosial.

“Jika pendidikan gagal, kita akan menghadapi pengangguran massal. Tapi jika berhasil, Indonesia bisa menjadi negara maju,” pungkasnya. (*)


Poin Utama Berita

  • Hardiknas 2026 jadi momentum refleksi pendidikan nasional
  • Pendidikan harus bangun kesadaran sosial, bukan hanya akademik
  • Sistem berbasis ranking dinilai berisiko lahirkan generasi individualistik
  • Data BPS: pengangguran lulusan SMK dan sarjana masih tinggi
  • Pendidikan harus cetak inovator dan problem solver
  • Literasi digital dan karakter jadi kunci di era informasi
  • Guru disebut faktor utama keberhasilan pendidikan
  • Bonus demografi jadi peluang atau ancaman tergantung kualitas pendidikan
error: Content is protected !!