Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
BIROKRASIPENDIDIKAN & KESEHATANPERISTIWAWISATA & KULINER

SURABAYA BERBENAH! Ekosistem Budaya Makin Inklusif, Akademisi: Menuju Tata Kelola Kolaboratif & Terbuka

36
×

SURABAYA BERBENAH! Ekosistem Budaya Makin Inklusif, Akademisi: Menuju Tata Kelola Kolaboratif & Terbuka

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SURABAYA | Sentrapos.co.id — Upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam memperkuat ekosistem kebudayaan dinilai mulai menunjukkan arah yang lebih terbuka, inklusif, dan kolaboratif.

Sejumlah pegiat budaya dan akademisi menilai kebijakan Pemkot dalam menyediakan ruang publik serta mendorong transformasi kelembagaan kebudayaan menjadi langkah strategis menuju pengelolaan budaya yang modern dan partisipatif.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Fasilitas Budaya Dinilai Representatif

Pegiat budaya Sanggar Omah Ndhuwur, Probo Darono Yakti, menyebut fasilitas kebudayaan yang disediakan Pemkot Surabaya sudah cukup representatif.

“Pemkot sudah membuka ruang publik berkebudayaan, mulai dari Balai Pemuda hingga taman kota,” ujarnya.

Ia menilai peran pemerintah kini semakin bergeser sebagai fasilitator (enabler) yang mendorong aktivitas seni dan budaya berkembang di ruang publik.

Menuju Tata Kelola Partisipatif

Meski demikian, Probo menekankan pentingnya penguatan tata kelola berbasis partisipasi agar seluruh pelaku budaya mendapatkan akses yang merata.

“Tidak cukup hanya menyediakan fasilitas, tapi juga perlu pengelolaan yang melibatkan semua elemen budaya,” tegasnya.

Ia menyebut Surabaya saat ini masih berada dalam fase transisi, dari sistem administratif menuju model kolaboratif.

Transformasi Lembaga Budaya Jadi Keniscayaan

Transformasi lembaga kesenian menjadi lembaga kebudayaan dinilai sebagai langkah yang tidak terelakkan, sejalan dengan regulasi nasional seperti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 dan PP Nomor 87 Tahun 2021.

Perubahan ini menuntut peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar mampu mengelola berbagai aspek kebudayaan secara menyeluruh.

“Peran lembaga semakin luas, SDM harus menguasai seluruh objek pemajuan kebudayaan,” jelas Probo.

Dorong Aktivitas Seni Hingga Tingkat Kampung

Pandangan serupa disampaikan akademisi dan pelaku seni Jarmani, yang menilai fasilitas dari Pemkot telah menjangkau hingga level kampung.

“Fasilitasi ini sangat menghidupkan perkembangan kesenian di Surabaya,” ujarnya.

Menurutnya, ruang publik yang tersedia berhasil mendorong aktivitas seni menjadi lebih hidup dan dinamis di tengah masyarakat.

Perlu Evaluasi Berkelanjutan

Meski capaian dinilai positif, para akademisi mendorong evaluasi berkelanjutan agar program pemajuan kebudayaan terus berkembang.

“Evaluasi holistik perlu dilakukan agar ke depan lebih baik lagi,” kata Jarmani.

Menuju Kota Budaya yang Terintegrasi

Transformasi kebijakan dan kelembagaan ini diharapkan mampu menjadikan Surabaya sebagai kota dengan ekosistem budaya yang kuat, inklusif, dan terintegrasi.

Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku seni menjadi kunci utama dalam memperkuat identitas budaya kota di tengah modernisasi. (*pemkotsby)


Poin Utama Berita

  • Pemkot Surabaya dorong ekosistem budaya inklusif dan terbuka
  • Fasilitas budaya dinilai representatif oleh akademisi
  • Tata kelola budaya diarahkan ke model kolaboratif
  • Transformasi lembaga budaya sesuai UU Pemajuan Kebudayaan
  • Aktivitas seni berkembang hingga tingkat kampung
  • Evaluasi berkelanjutan diperlukan untuk peningkatan kualitas
  • Surabaya dalam fase transisi menuju kota budaya modern
error: Content is protected !!