Trump Disebut Semakin Frustrasi Hadapi Iran
WASHINGTON | Sentrapos.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan semakin frustrasi menghadapi Iran yang dinilai tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah meski telah digempur melalui operasi militer dan tekanan ekonomi besar-besaran sejak akhir Februari 2026.
Laporan CNN menyebut sejumlah pejabat senior di lingkaran Gedung Putih kini mulai mendorong opsi serangan militer yang lebih besar terhadap Teheran dibandingkan melanjutkan jalur diplomasi.
“Trump kini lebih serius mempertimbangkan operasi tempur besar dibanding hanya menunggu Iran menyetujui proposal damai,” tulis laporan tersebut.
Gedung Putih Terbelah soal Langkah Selanjutnya
Di internal pemerintahan AS disebut terjadi perbedaan pandangan terkait strategi menghadapi Iran.
Sebagian pejabat mendukung pendekatan agresif dengan serangan terarah untuk semakin melemahkan posisi Teheran. Namun, kubu lain masih ingin memberi ruang bagi proses diplomasi dan negosiasi.
Sejumlah pihak di lingkaran dekat Trump juga meminta mediator Pakistan lebih tegas dalam menyampaikan tekanan Washington kepada Iran.
Bahkan, beberapa pejabat AS menilai Islamabad terlalu lunak dan menyampaikan gambaran situasi Iran yang lebih positif dibanding kondisi sebenarnya.
Trump Kesal Selat Hormuz Masih Diblokade
Sumber CNN menyebut salah satu pemicu utama frustrasi Trump adalah masih tertutupnya Selat Hormuz yang berada di bawah kendali Iran.
Blokade tersebut berdampak besar terhadap distribusi energi global dan memicu kenaikan harga bahan bakar dunia.
“Trump sangat terganggu dengan situasi Selat Hormuz yang masih diblokade Iran,” ungkap sumber pemerintahan AS.
Selain itu, respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian AS juga dianggap tidak menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan.
Diplomasi Dinilai Tak Banyak Berhasil
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump sebenarnya masih mengedepankan pendekatan diplomasi dengan kombinasi tekanan ekonomi dan negosiasi langsung.
Namun, Teheran dinilai tetap mempertahankan sikap keras sejak pengumuman gencatan senjata pada April lalu.
“Kalau saya tidak suka kalimat pertamanya, langsung saya buang,” ujar Trump saat ditanya wartawan mengenai proposal terbaru Iran.
Gedung Putih menegaskan seluruh opsi masih terbuka, meski diplomasi tetap menjadi pilihan utama Presiden AS.
“Presiden Trump memiliki semua opsi yang tersedia. Namun preferensinya selalu diplomasi,” kata Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly.
Perang AS-Iran Pengaruhi Politik dan Ekonomi AS
Konflik berkepanjangan dengan Iran kini mulai memengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Trump menjelang pemilu sela di AS.
Kenaikan harga energi global serta tekanan ekonomi disebut menjadi kekhawatiran utama Partai Republik menjelang pemungutan suara November mendatang.
Di sisi lain, kunjungan Trump ke China dan pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping juga belum menghasilkan terobosan signifikan terkait penyelesaian konflik Timur Tengah.
Trump mengklaim Xi mendukung pembukaan Selat Hormuz dan menolak Iran mengembangkan senjata nuklir, meski pernyataan itu dinilai bukan hal baru.
Konflik Berpotensi Meluas
Situasi memanas ini membuat dunia internasional khawatir perang AS-Iran akan semakin meluas dan memicu krisis energi global.
Hingga kini, Trump masih harus menentukan apakah opsi serangan tambahan terhadap Iran akan menjadi langkah terbaik untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung lebih lama dari perkiraan awal pemerintahannya. (*)
Poin Utama Berita
- Donald Trump dikabarkan frustrasi karena Iran tidak menyerah usai serangan AS.
- Gedung Putih mempertimbangkan opsi operasi tempur lebih besar terhadap Iran.
- Internal pemerintahan AS terbelah antara jalur diplomasi dan pendekatan militer.
- Selat Hormuz yang masih diblokade Iran menjadi pemicu utama ketegangan.
- Konflik AS-Iran mulai berdampak pada ekonomi global dan politik domestik AS.
- Trump disebut kecewa karena negosiasi damai tidak membuahkan hasil signifikan.
- Kunjungan Trump ke China belum menghasilkan solusi terkait Iran.

















