Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISNASIONALPERISTIWA

Waspada Dampak Selat Hormuz! Menperin Agus Kumpulkan Industri Plastik, Pengiriman Melonjak hingga 50 Hari

46
×

Waspada Dampak Selat Hormuz! Menperin Agus Kumpulkan Industri Plastik, Pengiriman Melonjak hingga 50 Hari

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengumpulkan para pelaku industri plastik nasional untuk merespons dinamika geopolitik global, khususnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu rantai pasok bahan baku petrokimia.

Pertemuan tersebut melibatkan berbagai sektor industri, mulai dari hulu petrokimia, industri antara, hilir, hingga pelaku daur ulang plastik. Fokus utama pembahasan adalah mitigasi dampak konflik global terhadap keberlanjutan produksi industri dalam negeri.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat,” tegas Agus, Jumat (17/4/2026).

Meski stok dinilai masih aman, pemerintah mengakui adanya tekanan terhadap harga dan distribusi bahan baku akibat gejolak geopolitik. Kenaikan biaya logistik, freight pelabuhan, hingga surcharge premium menjadi faktor utama yang memicu potensi lonjakan harga plastik di dalam negeri.

Lebih jauh, dampak signifikan terlihat pada waktu pengiriman bahan baku impor yang mengalami keterlambatan drastis.

“Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi,” ungkapnya.

Situasi ini, menurut Agus, harus menjadi momentum strategis untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional, terutama dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Pemerintah pun mulai mendorong eksplorasi sumber alternatif domestik, salah satunya melalui pemanfaatan crude palm oil (CPO) sebagai substitusi bahan baku nafta.

“Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO. Meski tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung matang,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut, para pelaku industri juga menyampaikan komitmennya untuk menjaga stabilitas suplai plastik nasional, khususnya bagi industri kecil dan menengah agar tetap kompetitif di tengah tekanan global.

Namun demikian, pelaku usaha berharap adanya perlindungan pasar domestik dari gempuran produk impor, sekaligus peningkatan daya tarik investasi di sektor petrokimia nasional.

Pertemuan ini turut dihadiri sejumlah asosiasi dan perusahaan besar, di antaranya INAPLAS, PT Chandra Asri Petrochemical, PT Lotte Chemical Indonesia, serta berbagai asosiasi industri lainnya.

Pemerintah menegaskan akan terus menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi nasional dan bahan baku industri guna memastikan stabilitas sektor manufaktur di tengah ketidakpastian global. (*)


Poin Utama Berita

  • Menperin kumpulkan pelaku industri plastik nasional
  • Ketegangan Selat Hormuz ancam rantai pasok petrokimia
  • Stok plastik dinilai aman, namun tetap dalam pengawasan
  • Waktu pengiriman bahan baku melonjak dari 15 hari jadi 50 hari
  • Biaya produksi berpotensi naik akibat logistik dan surcharge
  • Pemerintah dorong kemandirian bahan baku dalam negeri
  • CPO dipertimbangkan sebagai alternatif substitusi nafta
  • Industri minta perlindungan pasar dari produk impor