Baru Enam Bulan Menjabat, Rodrigo Paz Dihantam Gelombang Protes Nasional akibat Krisis Ekonomi dan Tuduhan Pengkhianatan Politik
LA PAZ | Sentrapos.co.id – Bolivia tengah berada dalam situasi politik yang memanas setelah gelombang demonstrasi besar mengguncang berbagai wilayah negara itu sejak awal Mei 2026. Ribuan warga bersama organisasi serikat buruh turun ke jalan menuntut Presiden Rodrigo Paz mundur dari jabatannya.
Aksi protes yang awalnya dipicu persoalan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat kini berkembang menjadi tekanan politik serius terhadap pemerintahan baru Bolivia yang baru berjalan enam bulan.
Demonstrasi besar tersebut turut diwarnai kerusuhan sosial di sejumlah titik, memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara pemerintah dan kelompok masyarakat pekerja serta komunitas adat.
Pemimpin Central Obrera Boliviana (COB), Mario Argollo, menilai Rodrigo Paz gagal menyelesaikan persoalan struktural negara dan dianggap meninggalkan rakyat dalam ketidakpastian.
“Tuntutannya adalah agar presiden mengundurkan diri karena ketidakmampuannya menyelesaikan masalah struktural negara,” tegas Mario Argollo.
Awalnya, massa menuntut kenaikan upah, penanganan bahan bakar bermasalah yang merusak kendaraan warga, hingga penolakan terhadap undang-undang pertanahan yang dinilai hanya menguntungkan elite bisnis dan pengusaha lahan.
Pemerintah Bolivia sempat mencoba meredam kemarahan publik dengan menjanjikan pencabutan undang-undang pertanahan, pemberian bonus untuk guru, serta kompensasi bagi korban kerusakan kendaraan akibat bahan bakar tercemar.
Namun langkah tersebut gagal meredakan situasi. Gelombang demonstrasi justru semakin meluas dan berubah menjadi tuntutan pengunduran diri Presiden Rodrigo Paz.
Rodrigo Paz Dituding Khianati Basis Pendukung Rakyat
Analis politik Bolivia, Luciana Jauregui, menilai kekecewaan publik dipicu perubahan arah politik Rodrigo Paz setelah memenangkan pemilu 2025.
Menurutnya, Paz meraih kemenangan besar berkat dukungan kelompok pekerja dan masyarakat adat, namun setelah berkuasa justru dianggap berpihak kepada elite bisnis.
“Sektor-sektor populer tidak hanya merasakan pengucilan, tetapi juga pengkhianatan terang-terangan,” ujar Luciana Jauregui.
Kemarahan publik semakin meningkat setelah Rodrigo Paz menghapus pajak kekayaan besar, memasukkan tokoh elite bisnis ke kabinet, serta mempererat hubungan politik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Situasi politik Bolivia juga semakin kompleks dengan munculnya kembali mantan Presiden Evo Morales yang menggerakkan pendukungnya melakukan pawai sejauh 190 kilometer menuju ibu kota La Paz.
Morales menuntut pengunduran diri Rodrigo Paz sekaligus meminta penghentian proses hukum terhadap dirinya terkait dugaan kasus pelecehan terhadap remaja perempuan.
Di sisi lain, pemerintah menuding ada upaya sistematis untuk menggulingkan kekuasaan secara paksa.
Juru bicara pemerintah, Galvez, menyebut sebagian kelompok demonstran diduga memanfaatkan situasi demi merebut kekuasaan melalui cara-cara yang melanggar hukum.
“Kami akan membuka dialog untuk tuntutan yang sah, namun penegakan hukum akan dilakukan terhadap pihak yang menyerang demokrasi,” tegas Galvez.
Hingga kini, Bolivia masih berada dalam tekanan ekonomi berat yang ditandai inflasi tinggi, kekurangan dolar AS, dan melemahnya sektor minyak serta gas nasional.
Ketidakpuasan sosial yang terus membesar membuat Bolivia berpotensi menghadapi krisis politik terburuk dalam beberapa tahun terakhir. (*)
Poin Utama Berita
- Bolivia dilanda demonstrasi besar sejak awal Mei 2026.
- Ribuan warga menuntut Presiden Rodrigo Paz mundur.
- Aksi dipicu krisis ekonomi dan ketidakpuasan sosial.
- Serikat buruh menilai pemerintah gagal menyelesaikan masalah negara.
- Demonstrasi berkembang menjadi kerusuhan di sejumlah wilayah.
- Rodrigo Paz dituduh mengkhianati basis pendukung rakyat dan masyarakat adat.
- Evo Morales kembali muncul dan menggerakkan massa menuju La Paz.
- Pemerintah menuding ada upaya menggulingkan kekuasaan secara paksa.
- Bolivia menghadapi tekanan inflasi, krisis dolar AS, dan pelemahan ekonomi.

















