Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

Iran Tegang! Mojtaba Khamenei Larang Uranium Diperkaya Dibawa Keluar Negeri, AS dan Israel Siaga

36
×

Iran Tegang! Mojtaba Khamenei Larang Uranium Diperkaya Dibawa Keluar Negeri, AS dan Israel Siaga

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Iran Tegaskan Uranium Diperkaya Tidak Akan Dikirim ke Luar Negeri

TEHERAN | Sentrapos.co.id — Ketegangan terkait program nuklir Iran kembali memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, disebut menginstruksikan agar uranium yang telah diperkaya tidak boleh dikirim keluar negeri.

Informasi tersebut diungkap dua sumber senior Iran di tengah negosiasi alot antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang hingga kini masih menemui jalan buntu.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Keputusan itu dinilai menjadi sinyal keras Teheran terhadap tekanan Washington dan Israel yang selama ini menuntut Iran menyerahkan atau memusnahkan stok uranium hasil pengayaan tinggi.

Sub Judul: Iran Khawatir Jadi Sasaran Serangan Jika Uranium Dilepas

Menurut dua sumber yang dikutip Reuters, para pejabat tinggi Iran meyakini pengiriman uranium ke luar negeri justru akan membuat Iran lebih rentan terhadap serangan militer di masa depan.

“Arahan Pemimpin Tertinggi dan konsensus pemerintahan adalah uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan negara ini,” ujar salah satu sumber senior Iran kepada Reuters.

Program nuklir Iran memang kembali menjadi fokus utama diplomasi internasional setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa tingkat pengayaan uranium Iran telah mencapai sekitar 60 persen.

Angka tersebut dinilai sangat dekat dengan level 90 persen yang dibutuhkan untuk produksi senjata nuklir.

Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menegaskan tidak akan membiarkan Iran mempertahankan uranium hasil pengayaan tinggi.

“Kami tidak akan membiarkan mereka memilikinya,” tegas Presiden Donald Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Trump bahkan menyebut Washington siap mengambil dan menghancurkan uranium Iran apabila diperlukan.

Di sisi lain, pejabat Israel juga mengklaim bahwa Trump telah memberikan jaminan kepada Tel Aviv bahwa uranium Iran nantinya akan dipindahkan keluar dari wilayah Teheran.

Namun, Iran tetap bersikeras hanya bersedia mengurangi tingkat pengayaan uranium, bukan menyerahkannya kepada negara lain.

Sikap keras Teheran dipicu meningkatnya kecurigaan terhadap niat Amerika Serikat dan Israel di tengah gencatan senjata rapuh yang berlaku sejak 8 April lalu.

Menurut dua sumber Iran, pemerintah di Teheran mencurigai jeda konflik saat ini hanya bagian dari strategi Washington untuk menciptakan rasa aman sebelum kembali melancarkan serangan.

Hingga kini, blokade Iran di Selat Hormuz masih berlangsung, begitu pula pembatasan ekonomi Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.

Meski sejumlah putaran perundingan telah dilakukan, perbedaan mendasar antara kedua negara masih sulit dijembatani.

“Perpecahan utama tetap terjadi terkait hak Iran melakukan pengayaan uranium dan nasib stok uranium yang sudah diperkaya,” ungkap sumber diplomatik Iran.

Kementerian Luar Negeri Iran sendiri memilih tidak memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.

Sementara Gedung Putih menegaskan bahwa pemerintahan Trump hanya akan menyetujui kesepakatan yang dianggap menguntungkan kepentingan Amerika Serikat.

Kondisi ini membuat negosiasi nuklir Iran kembali berada dalam fase kritis dan berpotensi memicu ketegangan geopolitik baru di Timur Tengah. (*)


Poin Utama Berita

  • Mojtaba Khamenei disebut melarang uranium Iran dikirim ke luar negeri.
  • Iran khawatir kehilangan uranium akan membuat negara lebih rentan diserang AS dan Israel.
  • IAEA menyebut uranium Iran telah diperkaya hingga 60 persen.
  • AS menuntut Iran menyerahkan atau memusnahkan uranium hasil pengayaan tinggi.
  • Donald Trump menegaskan tidak akan membiarkan Iran memiliki uranium tersebut.
  • Israel mengklaim Trump menjamin uranium Iran akan dipindahkan keluar Teheran.
  • Iran hanya bersedia mengurangi tingkat pengayaan, bukan menyerahkan uranium.
  • Gencatan senjata Iran-AS sejak April masih berlangsung rapuh.
  • Iran curiga jeda konflik dimanfaatkan AS untuk strategi serangan berikutnya.
  • Negosiasi nuklir Iran masih mengalami kebuntuan serius.