TEHERAN | Sentrapos.co.id — Iran dilaporkan sepakat memindahkan sebagian uranium yang telah diperkaya ke negara ketiga sebagai respons atas proposal Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik berkepanjangan yang mengguncang Timur Tengah sejak Februari lalu.
Informasi tersebut diungkap sumber yang mengetahui jalannya negosiasi kepada Wall Street Journal dan dikutip Straits Times. Dalam proposal itu, Teheran disebut bersedia mengurangi stok uranium yang diperkaya dan mengirimkannya ke negara lain sebagai bagian dari langkah deeskalasi konflik.
Namun demikian, Iran tidak menerima proposal tersebut tanpa syarat. Pemerintah Teheran meminta jaminan penuh bahwa uranium yang dipindahkan dapat dikembalikan apabila proses negosiasi gagal mencapai kesepakatan permanen.
Selain itu, Iran dengan tegas menolak pembongkaran fasilitas nuklir yang selama ini menjadi salah satu tuntutan utama Washington.
“Iran meminta jaminan bahwa uranium yang dipindahkan akan dikembalikan jika pembicaraan mengalami kegagalan,” ungkap sumber yang mengetahui isi proposal tersebut.
Tanggapan Iran terhadap proposal Amerika Serikat disebut terdiri dari beberapa halaman, menandakan masih adanya perbedaan mendasar antara kedua negara terkait program nuklir Teheran dan keamanan kawasan Timur Tengah.
Salah satu sumber dari Iran juga mengonfirmasi bahwa pemerintah telah menyampaikan respons resmi melalui mediator internasional. Namun, ia menolak memberikan rincian lebih lanjut mengenai isi negosiasi tersebut.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah menghentikan perang yang dinilai telah mengancam stabilitas kawasan dan komunitas internasional.
“Untuk saat ini, kami memutuskan fokus mengakhiri perang karena ini menjadi perhatian seluruh kawasan, bangsa kami, dan komunitas internasional,” kata Esmail Baghaei dikutip dari Tasnim News Agency.
Proposal AS dan Selat Hormuz
Dalam usulan yang diajukan Washington, Amerika Serikat disebut menawarkan sejumlah konsesi, termasuk perizinan pelayaran di Selat Hormuz dan penghentian blokade terhadap kapal maupun pelabuhan Iran dalam waktu satu bulan ke depan.
AS dan Iran sebelumnya juga menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai sejak 8 April dan kemudian diperpanjang tanpa batas waktu yang diumumkan secara resmi.
Meski demikian, negosiasi damai antara kedua negara masih berlangsung alot. Pertemuan lanjutan yang digelar di Pakistan pada pertengahan April dilaporkan berakhir buntu.
Sejumlah isu sensitif masih menjadi perdebatan sengit, mulai dari program nuklir Iran, keamanan Selat Hormuz, hingga pengaruh Teheran di Lebanon.
Trump Kembali Ancam Iran
Di tengah upaya diplomasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Iran. Trump memperingatkan Washington dapat mengambil “jalur berbeda” apabila kesepakatan tidak segera ditandatangani.
Sejumlah laporan media internasional menyebut AS diduga tengah mempertimbangkan menghidupkan kembali operasi militer bertajuk Project Freedom.
Operasi tersebut disebut bertujuan mematahkan dominasi maritim Iran di Selat Hormuz dengan pengawalan kapal-kapal internasional oleh militer Amerika Serikat.
Situasi Timur Tengah sendiri terus memanas sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran kemudian membalas dengan menyerang aset militer AS dan target Israel di kawasan Teluk.
Iran juga sempat menutup Selat Hormuz pada 2 Maret sebagai bentuk tekanan terhadap AS dan Israel, langkah yang sempat mengguncang pasar energi dunia dan memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan minyak internasional. (*)
Poin Utama Berita
- Iran setuju memindahkan sebagian uranium yang diperkaya ke negara ketiga.
- Kesepakatan merupakan respons atas proposal damai Amerika Serikat.
- Iran meminta jaminan uranium dikembalikan jika negosiasi gagal.
- Teheran menolak pembongkaran fasilitas nuklir.
- AS menawarkan pelonggaran pelayaran di Selat Hormuz.
- Gencatan senjata AS-Iran telah diperpanjang tanpa batas waktu jelas.
- Donald Trump kembali mengancam Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
- AS diduga mempertimbangkan kembali operasi militer Project Freedom.
- Konflik Timur Tengah memicu ketegangan global dan ancaman terhadap pasokan energi dunia.

















