BANGKOK | Sentrapos.co.id — Mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, resmi bebas lebih awal dari penjara pada Senin (11/5/2026) setelah menyelesaikan masa hukuman terkait kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Miliarder telekomunikasi berusia 76 tahun itu keluar dari tahanan dengan status pembebasan bersyarat dan diwajibkan mengenakan alat pemantau elektronik selama empat bulan masa percobaan.
Momen kebebasan Thaksin disambut meriah oleh ratusan pendukungnya di luar penjara Bangkok. Massa mengenakan kaus merah khas pendukung loyalis Shinawatra sambil meneriakkan yel-yel dukungan.
“Kami cinta Thaksin!” teriak para pendukung yang memadati area sekitar penjara Bangkok.
Thaksin tampak memeluk anggota keluarganya sebelum meninggalkan lokasi menggunakan kendaraan pribadi tanpa memberikan pernyataan kepada media.
Magnet Politik Thailand Belum Padam
Meski telah berusia lanjut, banyak pihak menilai Thaksin belum benar-benar selesai dari panggung politik Thailand.
Selama lebih dari dua dekade, sosok Thaksin menjadi figur sentral yang membelah politik Negeri Gajah Putih. Ia dikenal sebagai tokoh populis yang memiliki dukungan kuat dari masyarakat pedesaan, namun juga menjadi rival utama kelompok elite pro-militer dan pro-monarki.
Salah satu pendukungnya, Janthana Chaidej (70), mengaku yakin Thaksin akan kembali memainkan peran penting di dunia politik Thailand.
“Thaksin mungkin akan absen beberapa bulan, tetapi dia tidak akan meninggalkan dunia politik,” ujar Janthana Chaidej dikutip AFP.
Partai Pheu Thai yang didirikan Thaksin selama ini menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Thailand. Keluarga Shinawatra bahkan telah melahirkan empat perdana menteri dan mendominasi politik Thailand selama dua dekade terakhir.
Namun, kejayaan tersebut mulai meredup setelah Pheu Thai mencatat hasil pemilu terburuk sepanjang sejarahnya pada Februari lalu dengan turun ke posisi ketiga.
Dinasti Shinawatra dan Ancaman Politik Baru
Meski mengalami penurunan elektabilitas, masuknya Pheu Thai ke dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri konservatif Anutin Charnvirakul membuka peluang kembalinya pengaruh politik Thaksin.
Pengamat politik Thailand, Wanwichit Boonprong, menilai pembebasan Thaksin berpotensi memperkuat basis dukungan Pheu Thai dalam jangka pendek.
“Bagi pendukung setianya, pembebasan Thaksin akan memperkuat Pheu Thai karena mereka merasa pemilik partai telah kembali,” kata Wanwichit.
Namun di sisi lain, kelompok konservatif anti-Thaksin diperkirakan akan kembali bersatu untuk membendung pengaruh politik keluarga Shinawatra.
Bebas Bersyarat dan Kontroversi Perlakuan Khusus
Departemen pemasyarakatan Thailand sebelumnya mengumumkan pembebasan dini Thaksin dengan alasan usia lanjut dan sisa hukuman yang kurang dari satu tahun.
Thaksin diketahui kembali ke Thailand pada Agustus 2023 setelah bertahun-tahun hidup di pengasingan pasca kudeta militer yang menggulingkannya dari kursi perdana menteri.
Setelah pulang, ia dijatuhi hukuman delapan tahun penjara atas kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Namun, hukumannya kemudian dikurangi menjadi satu tahun melalui pengampunan kerajaan.
Alih-alih mendekam di sel tahanan, Thaksin sempat menjalani masa hukuman di ruang rumah sakit dengan alasan kesehatan. Kondisi tersebut memicu kecurigaan publik terkait dugaan perlakuan istimewa dan kesepakatan politik rahasia.
Mahkamah Agung Thailand pada September tahun lalu bahkan memutuskan Thaksin tidak mengalami kondisi kesehatan kritis sehingga masa perawatan di rumah sakit tidak dapat dihitung sebagai masa tahanan.
Akibat keputusan itu, mantan pemilik klub sepak bola Manchester City tersebut kembali dipenjara untuk menyelesaikan sisa hukuman satu tahunnya sebelum akhirnya dibebaskan bersyarat pada Mei 2026. (*)
Poin Utama Berita
- Thaksin Shinawatra resmi bebas lebih awal dari penjara Thailand.
- Mantan PM Thailand itu menjalani hukuman kasus korupsi.
- Thaksin diwajibkan memakai alat pemantau elektronik selama masa percobaan.
- Ratusan pendukung menyambut pembebasan Thaksin di Bangkok.
- Pengamat menilai Thaksin masih memiliki pengaruh besar di politik Thailand.
- Partai Pheu Thai diprediksi kembali menguat pasca pembebasan Thaksin.
- Kelompok konservatif Thailand disebut mulai bersatu menghadapi pengaruh Shinawatra.
- Pembebasan Thaksin memicu kembali kontroversi soal perlakuan khusus dan dugaan kompromi politik.

















