Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
DAERAHPERISTIWA

Kemarau Datang Lebih Awal, Pemkab Gresik Siaga Kekeringan 2026: 12 Kecamatan Terancam!

37
×

Kemarau Datang Lebih Awal, Pemkab Gresik Siaga Kekeringan 2026: 12 Kecamatan Terancam!

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

GRESIK | Sentrapos.co.id — Pemerintah Kabupaten Gresik meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekeringan pada tahun 2026. Pasalnya, musim kemarau diprediksi datang lebih awal, bahkan mulai akhir April.

Berdasarkan pemetaan awal, sedikitnya enam kecamatan sudah masuk kategori rawan pada fase awal kemarau. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat hingga 12 kecamatan saat puncak musim kering pada periode Juli hingga September.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menegaskan seluruh jajaran harus bergerak cepat tanpa menunggu kondisi krisis terjadi.

“Jangan tunggu masyarakat kesulitan air baru kita bergerak. Semua harus siap dari sekarang. Kecamatan harus tahu titik rawan, desa harus paham kondisinya. Tidak boleh ada keterlambatan,” tegas Yani, Jumat (17/4/2026).

Sebagai langkah antisipatif, Pemkab Gresik melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiapkan skema distribusi air bersih ke wilayah terdampak.

Sejumlah sarana telah disiagakan, mulai dari lima unit truk tangki, puluhan tandon air, hingga ratusan jerigen untuk kebutuhan darurat masyarakat.

Namun demikian, Yani mengakui adanya keterbatasan armada yang berpotensi menjadi kendala dalam menjangkau seluruh wilayah terdampak secara merata.

“Dengan keterbatasan ini, kita tidak bisa bekerja secara biasa. Harus berbasis data, tepat sasaran, dan bergerak cepat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penanganan kekeringan tidak bisa hanya mengandalkan distribusi air bersih semata. Pemanfaatan sumber air alternatif serta kolaborasi lintas sektor menjadi strategi utama yang harus dikedepankan.

“Kita harus keluar dari pola lama. Sumber air yang ada harus dioptimalkan, termasuk kerja sama dengan pihak swasta. Ini soal strategi, bukan sekadar bantuan,” imbuhnya.

Selain itu, kesiapsiagaan juga didorong hingga tingkat rumah tangga. Masyarakat diminta untuk mulai menyiapkan cadangan air secara mandiri sebagai langkah mitigasi awal.

“Minimal setiap rumah memiliki jerigen atau tandon. Kesiapan harus dibangun dari bawah, tidak hanya mengandalkan pemerintah,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gresik, Sukardi, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan wilayah rawan sebagai dasar intervensi distribusi air bersih.

“Distribusi akan dilakukan bertahap sesuai kebutuhan di lapangan. Tantangan utama saat ini adalah dukungan operasional, khususnya BBM, karena distribusi akan berlangsung rutin selama musim kemarau,” ungkap Sukardi.

BPBD juga terus memperkuat koordinasi lintas wilayah agar distribusi air tepat sasaran dan tidak mengalami keterlambatan.

Di sisi lain, Pemkab Gresik mulai menggeser pendekatan dari penanganan darurat menuju pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan, termasuk untuk mendukung sektor pertanian.

Dengan prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan meluas, tahun 2026 menjadi ujian nyata kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi ancaman krisis air.

“Tidak ada ruang untuk terlambat. Semua harus siap sebelum dampak meluas,” tegas Pemkab Gresik. (*)


Poin Utama Berita

  • Kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal mulai akhir April
  • Enam kecamatan rawan di awal, berpotensi meluas hingga 12 kecamatan
  • Pemkab Gresik siapkan distribusi air bersih melalui BPBD
  • Keterbatasan armada jadi tantangan utama distribusi
  • Bupati Gresik tekankan kesiapsiagaan tanpa menunggu krisis
  • Kolaborasi lintas sektor dan sumber air alternatif jadi solusi
  • Masyarakat diminta siapkan cadangan air mandiri
  • Pemkab mulai fokus pada pengelolaan air berkelanjutan