Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

AS-Iran Memanas! Ancaman Serangan Balasan Picu Krisis Global, Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Melejit

20
×

AS-Iran Memanas! Ancaman Serangan Balasan Picu Krisis Global, Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Melejit

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

HORMUZ | Sentrapos.co.id — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase kritis. Teheran secara terbuka memperingatkan akan melancarkan serangan balasan yang disebut “panjang dan menyakitkan” jika Washington melanjutkan agresi militer di kawasan.

Konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan ini belum menunjukkan tanda mereda. Bahkan, eskalasi terbaru berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global setelah Iran dikabarkan menutup Selat Hormuz—jalur vital yang menjadi nadi distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Penutupan jalur strategis tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia sempat melonjak tajam hingga menembus US$126 per barel sebelum kembali stabil di kisaran US$114.

“Penutupan Selat Hormuz berdampak langsung pada pasokan energi global dan berpotensi memicu krisis ekonomi dunia,”

Langkah ini memicu kekhawatiran luas terhadap potensi inflasi global dan perlambatan ekonomi, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer lanjutan. Salah satu skenario yang disiapkan termasuk pengerahan pasukan darat untuk mengamankan sebagian wilayah Selat Hormuz demi membuka kembali jalur perdagangan internasional.

Namun Iran menolak tekanan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa negosiasi dengan AS tidak akan menghasilkan solusi instan.

“Ekspektasi hasil cepat dari negosiasi adalah tidak realistis,”

Situasi di lapangan pun semakin memanas. Aktivitas pertahanan udara dilaporkan meningkat di Teheran, termasuk respons terhadap drone dan pesawat tanpa awak. Hal ini menunjukkan bahwa konflik masih berlangsung aktif meskipun sempat terjadi gencatan senjata sejak awal April.

Negara-negara kawasan mulai mengambil langkah antisipatif. Uni Emirat Arab melarang warganya bepergian ke Iran, Lebanon, dan Irak, serta meminta warga yang berada di wilayah tersebut untuk segera kembali.

Sementara itu, Iran melalui Garda Revolusi menegaskan kesiapan membalas setiap serangan baru dengan menargetkan pangkalan militer dan kapal perang AS di kawasan Timur Tengah.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengingatkan dampak serius yang bisa ditimbulkan jika krisis ini berkepanjangan.

“Semakin lama gangguan berlangsung, semakin berat dampaknya terhadap ekonomi global dan kesejahteraan masyarakat dunia,”

AS sendiri tengah mendorong pembentukan koalisi internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, sejumlah negara Eropa seperti Prancis dan Inggris masih menahan diri dan menunggu situasi lebih stabil.

Di sisi lain, Iran dinilai masih memiliki ketahanan meski berada di bawah tekanan ekonomi akibat blokade. Analis memperkirakan kebuntuan konflik ini bisa berlangsung lama, sehingga risiko krisis global masih terbuka lebar. (*)


Poin Utama Berita

  • Iran ancam serangan balasan “panjang dan menyakitkan” terhadap AS
  • Selat Hormuz ditutup, 20% pasokan energi global terdampak
  • Harga minyak melonjak hingga US$126 per barel
  • AS siapkan opsi militer termasuk pengerahan pasukan darat
  • Iran tolak negosiasi cepat, konflik berpotensi berkepanjangan
  • PBB peringatkan dampak global: inflasi, kemiskinan, krisis ekonomi
  • Negara kawasan mulai evakuasi warga akibat risiko keamanan tinggi
error: Content is protected !!