Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISNASIONALPERISTIWA

Bahlil Tegas: Indonesia Pilih Jalur Sendiri Hadapi Krisis Energi Global, Dorong B50 dan Energi Nabati

16
×

Bahlil Tegas: Indonesia Pilih Jalur Sendiri Hadapi Krisis Energi Global, Dorong B50 dan Energi Nabati

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan Indonesia mengambil jalur kebijakan mandiri dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.

Ketegangan geopolitik dunia—mulai dari rivalitas global hingga konflik di kawasan Timur Tengah—dinilai membuat arah ekonomi dan energi global semakin sulit diprediksi. Dalam kondisi tersebut, pemerintah memilih strategi adaptif berbasis kepentingan domestik.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

“Kondisi geopolitik yang terjadi sekarang tidak ada satu negara pun yang dapat meramalkan kapan selesai. Dalam kondisi seperti ini, pengelolaan energi harus disesuaikan karena semua negara mencari jalan keselamatannya masing-masing,” tegas Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).

Strategi Energi Nasional: Pragmatis dan Berbasis Domestik

Bahlil menekankan bahwa Indonesia tidak serta-merta mengikuti kebijakan negara lain dalam merespons tekanan global di sektor energi. Pemerintah justru mengedepankan pendekatan pragmatis dengan mengoptimalkan sumber daya dalam negeri.

Pemanfaatan energi domestik seperti batu bara tetap menjadi bagian dari strategi, meskipun dunia tengah mendorong percepatan transisi energi bersih.

“Ini bukan berarti kita mengabaikan energi bersih, tetapi transisi harus bertahap dan tidak membebani rakyat,” ujarnya.

B50 Jadi Kunci Kurangi Impor Energi

Salah satu langkah konkret pemerintah adalah memperkuat program biodiesel. Setelah implementasi B10 hingga B40, pemerintah menargetkan peningkatan ke B50 pada Juli 2026.

Program ini diyakini mampu menekan impor energi secara signifikan melalui substitusi bahan bakar berbasis minyak sawit (CPO).

“B50 adalah cara untuk mengonversi substitusi impor kita dari B0 menjadi B50. Inilah kenapa kita tidak lagi melakukan impor solar,” jelas Bahlil.

Pengembangan biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) menjadi bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional.

Dorong Bioetanol, Buka Peluang Ekonomi Baru

Selain biodiesel, pemerintah juga mulai mendorong pengembangan bahan bakar berbasis etanol sebagai substitusi bensin.

Langkah ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian. Komoditas seperti tebu, jagung, dan singkong diproyeksikan menjadi bahan baku utama bioetanol.

Stabilitas Harga dan Pasokan Tetap Prioritas

Di tengah dinamika global, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara keberlanjutan energi dan kemampuan ekonomi masyarakat.

Kebijakan energi nasional diarahkan untuk memastikan harga tetap terjangkau sekaligus menjaga stabilitas pasokan dalam jangka panjang.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, pemerintah optimistis Indonesia mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang belum mereda. (*)


Poin Utama Berita

  • Indonesia memilih kebijakan energi mandiri di tengah krisis global
  • Ketegangan geopolitik memicu ketidakpastian energi dunia
  • Pemerintah tetap manfaatkan energi domestik termasuk batu bara
  • Program biodiesel ditingkatkan ke B50 pada Juli 2026
  • B50 diproyeksikan menekan impor solar secara signifikan
  • Pengembangan bioetanol dorong sektor pertanian nasional
  • Pemerintah jaga keseimbangan antara energi bersih dan ekonomi rakyat
  • Stabilitas harga dan pasokan energi jadi prioritas utama

 

error: Content is protected !!