BEKASI | Sentrapos.co.id — Kesaksian mengejutkan datang dari masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofiandri, terkait kecelakaan tragis dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026).
Dalam insiden tersebut, sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka. Kedua rangkaian kereta juga mengalami kerusakan parah.
Nofiandri mengaku masih dalam kondisi syok saat mengingat peristiwa tersebut.
“Kalau syok, saya juga syok. Ini kejadian yang sangat tidak terduga,” ujar Nofiandri.
Penumpang KRL Paling Terdampak
Ia menjelaskan bahwa dampak terparah justru dialami oleh penumpang KRL, khususnya di bagian belakang rangkaian.
“Penumpang KA Argo Bromo relatif aman. Yang terdampak parah adalah penumpang KRL di bagian paling belakang,” ungkapnya.
Hal ini sejalan dengan posisi benturan yang terjadi dari arah belakang KRL.
Dugaan Sinyal Error Jadi Pemicu
Dalam kesaksiannya, Nofiandri mengungkap adanya dugaan gangguan pada sistem sinyal sebelum kecelakaan terjadi.
“Sepertinya ada sinyal yang error,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa secara sistem, perubahan sinyal tidak seharusnya terjadi secara tiba-tiba dari hijau langsung menjadi merah.
“Kalau dari Bekasi sinyalnya hijau, di sini maksimal kuning, tidak bisa langsung merah,” jelasnya.
Namun dalam kejadian tersebut, ia melihat sinyal langsung menunjukkan warna merah, yang menimbulkan kejanggalan.
Informasi Pusat Kendali Belum Sempat Diterima
Nofiandri juga menyebut bahwa pihak pusat kendali (PK) sebenarnya telah memberikan informasi, namun ia belum sempat menerima sepenuhnya sebelum sinyal berubah.
“Sudah ada info dari pusat kendali, tapi belum sepenuhnya saya terima, keburu sinyalnya merah,” paparnya.
Hal ini memperkuat dugaan adanya gangguan komunikasi atau sistem yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Kecepatan Kereta Capai 110 Km/Jam
Saat kejadian, KA Argo Bromo Anggrek diketahui melaju dengan kecepatan sekitar 110 km/jam.
Kecepatan tersebut membuat dampak tabrakan menjadi sangat besar dan sulit dihindari dalam waktu singkat.
Sorotan Keselamatan Sistem Perkeretaapian
Kesaksian masinis ini menambah daftar faktor yang perlu diinvestigasi secara menyeluruh, mulai dari sistem sinyal, komunikasi pusat kendali, hingga manajemen operasional di jalur padat.
“Kecelakaan ini mengindikasikan pentingnya sistem keselamatan yang mampu mendeteksi dan mengantisipasi gangguan secara real time.”
Kesimpulan
Kesaksian masinis KA Argo Bromo Anggrek membuka kemungkinan adanya gangguan sistem sebelum kecelakaan terjadi.
Pihak berwenang diharapkan segera melakukan investigasi mendalam untuk memastikan penyebab pasti, sekaligus mencegah kejadian serupa terulang di masa depan. (*)
Poin Utama Berita
- Masinis KA Argo Bromo Anggrek ungkap detik-detik kecelakaan
- Dugaan sinyal error sebelum tabrakan terjadi
- Sinyal disebut berubah tidak normal dari hijau ke merah
- Penumpang KRL jadi korban paling terdampak
- Informasi pusat kendali belum sempat diterima penuh
- Kecepatan kereta mencapai 110 km/jam saat kejadian
- Kesaksian jadi bahan penting investigasi keselamatan

















