Scroll untuk baca berita
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISNASIONALPERISTIWA

Rupiah Menguat ke Rp17.171 per Dolar AS, Analis Soroti Efek Kenaikan BBM dan Tekanan Global

9
×

Rupiah Menguat ke Rp17.171 per Dolar AS, Analis Soroti Efek Kenaikan BBM dan Tekanan Global

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan, Senin (20/4/2026), di tengah kombinasi sentimen domestik dan tekanan global yang masih membayangi pasar keuangan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terapresiasi 0,10 persen atau 18 poin ke level Rp17.171 per dolar AS. Penguatan ini berbalik arah dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (18/4/2026), di mana rupiah sempat melemah ke posisi Rp17.188 per dolar AS.

ADVERTISEMENT
Example 468x60
ADVERTISEMENT

Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan penguatan rupiah sudah sesuai dengan ekspektasi pasar, terutama setelah kebijakan pemerintah terkait penyesuaian harga BBM non-subsidi.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi,” ujar Lukman.

Menurutnya, kebijakan tersebut dipandang positif oleh pasar karena berpotensi mengurangi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Namun demikian, penguatan rupiah diperkirakan tidak akan berlangsung agresif. Sejumlah faktor eksternal masih menjadi penghambat utama, termasuk ketidakpastian geopolitik global.

“Ketidakpastian seputar status Selat Hormuz membatasi penguatan rupiah. Investor juga cenderung wait and see hasil perundingan AS-Iran,” jelasnya.

Pasar Tunggu Sinyal Bank Indonesia

Pelaku pasar saat ini juga mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (22/4/2026). Kebijakan suku bunga dan arah moneter BI dinilai akan menjadi penentu pergerakan rupiah selanjutnya.

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.100 hingga Rp17.250 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Rupiah Masih Tertekan Risiko Domestik

Sementara itu, Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai pelemahan rupiah pada akhir pekan lalu menunjukkan tekanan yang lebih dalam, bukan semata akibat penguatan dolar AS.

“Tekanan terhadap rupiah mencerminkan kenaikan premi risiko spesifik Indonesia, bukan hanya faktor global,” tegas Rully.

Ia menambahkan, meskipun lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s (S&P) mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB dengan outlook stabil, dampaknya terhadap penguatan rupiah masih terbatas.

Di sisi lain, mata uang global seperti euro dan pound sterling justru mencatat penguatan signifikan sepanjang April 2026.

  • Euro menguat sekitar 9,1 persen
  • Pound sterling naik sekitar 7,7 persen

Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan volatilitas yang tinggi dalam jangka pendek.

“Nilai tukar rupiah masih akan menjadi sumber utama volatilitas bagi pasar keuangan domestik,” pungkas Rully. (*)


Poin Utama Berita

  • Rupiah menguat ke Rp17.171 per dolar AS di pembukaan perdagangan
  • Penguatan dipicu kebijakan kenaikan BBM non-subsidi
  • Faktor global seperti Selat Hormuz dan geopolitik masih menekan
  • Investor menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur BI
  • Rupiah dinilai salah satu mata uang terlemah sepanjang April
  • Tekanan berasal dari risiko domestik, bukan hanya dolar AS