JAKARTA | Sentrapos.co.id — Krisis pendidikan nasional kembali menjadi sorotan. Lebih dari 4 juta anak usia 7–18 tahun di Indonesia tercatat tidak sekolah, putus sekolah, atau berisiko putus sekolah.
Data tersebut diperkuat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan masih banyak anak belum terjangkau layanan pendidikan, terutama pada jenjang yang lebih tinggi.
Menanggapi kondisi ini, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan negara harus hadir dengan pendekatan menyeluruh hingga ke tingkat keluarga.
“Ada jutaan anak yang tidak terlihat dalam sistem. Mereka ini ‘invisible people’, ada di sekitar kita tapi belum tersentuh program,” tegas Gus Ipul dalam forum Belajaraya 2026 di Taman Ismail Marzuki.
“Sekolah Rakyat” Jadi Solusi Strategis
Gus Ipul menekankan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan strategi utama pemerintah untuk menjangkau kelompok paling rentan.
Program ini tidak hanya fokus pada pendidikan anak, tetapi juga intervensi terhadap keluarga.
“Kita tidak hanya mengintervensi anaknya, tapi juga keluarganya. Harapannya, ketika anak lulus, keluarganya ikut naik kelas,” ujarnya.
Pendekatan berbasis keluarga dinilai penting untuk memutus rantai kemiskinan yang selama ini menjadi akar masalah pendidikan.
Gotong Royong Jadi Kunci Utama
Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), pemerintah menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh elemen bangsa.
“Kalau ingin semua naik ke standar pendidikan yang baik, jawabannya adalah gotong royong,” tegas Gus Ipul.
Pemerintah mengakui keterbatasan anggaran sehingga partisipasi masyarakat menjadi faktor krusial dalam memperluas akses pendidikan.
Tantangan Era Digital: Kesenjangan Akses Masih Lebar
Di era teknologi, Indonesia menghadapi paradoks pendidikan. Di satu sisi, generasi muda merupakan digital native, namun di sisi lain masih banyak yang belum mendapatkan akses pendidikan layak.
Kesenjangan ini menjadi tantangan besar dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan merata.
Peran Lingkungan dan Komunitas
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa lingkungan memiliki peran penting dalam keberhasilan belajar.
“Lingkungan belajar yang bersih dan sosial yang nyaman sangat menentukan keberhasilan pendidikan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya birokrasi untuk mampu menjangkau kesenjangan yang belum terlayani.
Madrasah dan Pesantren Jadi Pilar Gotong Royong
Sementara itu, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyoroti peran penting madrasah dan pesantren dalam sistem pendidikan nasional.
“Sekitar 95 persen madrasah dikelola swasta, tetapi tetap bertahan dengan kekuatan komunitas,” jelasnya.
Lembaga pendidikan berbasis keagamaan dinilai menjadi contoh nyata implementasi nilai gotong royong dalam pendidikan.
Agenda Besar: Tutup Kesenjangan Pendidikan
Pemerintah menargetkan:
- Menjangkau anak-anak yang tidak terdaftar dalam sistem
- Mengurangi angka putus sekolah
- Memperkuat pendidikan berbasis komunitas
- Meningkatkan kolaborasi lintas sektor
“Pendidikan adalah kunci utama keluar dari kemiskinan. Negara harus hadir hingga ke akar persoalan,” menjadi pesan kuat dalam peringatan Hardiknas 2026. (*)
Poin Utama Berita
- Lebih dari 4 juta anak Indonesia tidak sekolah atau berisiko putus sekolah
- BPS mencatat kesenjangan pendidikan masih tinggi
- Program Sekolah Rakyat jadi solusi strategis pemerintah
- Pendekatan berbasis keluarga untuk memutus kemiskinan
- Gotong royong jadi kunci utama perluasan akses pendidikan
- Kesenjangan akses pendidikan masih terjadi di era digital
- Lingkungan belajar berpengaruh besar terhadap keberhasilan siswa
- Madrasah dan pesantren berperan penting dalam pendidikan nasional

















