BEKASI | Sentrapos.co.id — Fakta mengejutkan terungkap di balik tragedi tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur yang menewaskan 16 penumpang. Sopir taksi Green SM berinisial RRP diketahui baru bekerja selama tiga hari dan hanya mendapatkan pelatihan singkat selama satu hari sebelum insiden terjadi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menjelaskan, pelatihan yang diterima sopir hanya sebatas pengenalan dasar pengoperasian kendaraan.
“Jadi terkait bagaimana mengendarai, cara menghidupkan kendaraan tersebut, ini baru pengenalan dasar itu dilakukan satu hari,” ujar Budi, Kamis (30/4/2026).
Mobil Mogok di Rel, Pintu Tak Bisa Dibuka
Polisi juga mengungkap bahwa kendaraan yang dikemudikan RRP sempat berhenti di jalur rel akibat dugaan gangguan mesin. Situasi semakin kritis ketika pintu mobil tidak dapat dibuka.
“Saat kendaraan berhenti, pintu tidak bisa dibuka. Sopir akhirnya keluar melalui jendela setelah mencoba menghidupkan ulang kendaraan,” jelasnya.
Kasus ini kini telah naik ke tahap penyidikan, meskipun status sopir masih sebagai saksi dan belum ditahan.
Kronologi Kecelakaan Beruntun
Kecelakaan terjadi pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.52 WIB di KM 28+920 emplasemen Stasiun Bekasi Timur. Insiden melibatkan KRL jurusan Cikarang (PLB 5568A) dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Bobby Rasyidin menyebutkan, peristiwa ini diduga dipicu oleh insiden awal berupa taksi yang tertemper di pelintasan sebidang.
“Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di pelintasan. Hal ini diduga mengganggu sistem perjalanan kereta di wilayah Bekasi Timur,” ujar Bobby.
Akibat tabrakan tersebut, 16 penumpang KRL meninggal dunia, sementara sekitar 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek selamat.
Perbaikan Pelintasan dan Evaluasi Keselamatan
Pasca tragedi, pelintasan sebidang di kawasan Ampera kini telah dipasangi palang besi sementara dan papan peringatan untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan. Infrastruktur jalan di sekitar lokasi juga mulai diperbaiki.
Selain itu, Korlantas Polri akan memanggil para pengusaha taksi, khususnya pengguna kendaraan listrik (EV), untuk diberikan edukasi terkait standar operasional prosedur (SOP) darurat.
“Kami akan memberikan edukasi terkait SOP penanganan darurat, terutama bagi kendaraan listrik yang memiliki mekanisme berbeda,” ujar Brigjen Faizal.
Menurutnya, masih banyak pengemudi yang belum memahami cara menangani kendaraan listrik saat mengalami gangguan, terutama di situasi berbahaya seperti di perlintasan kereta.
Komitmen KAI untuk Korban
Sebagai bentuk tanggung jawab, PT KAI juga memberikan bantuan kepada keluarga korban, termasuk menjamin pendidikan anak salah satu korban meninggal dunia melalui program asuransi pendidikan.
“Kami ingin keluarga korban tetap merasa didampingi. Pendidikan anak korban akan kami jamin agar dapat melanjutkan sekolah,” tegas Bobby.
Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga korban sekaligus menjadi bentuk kepedulian atas tragedi yang mengguncang publik tersebut. (*)
Poin Utama Berita
- Sopir taksi Green SM baru bekerja 3 hari, pelatihan hanya 1 hari
- Mobil mogok di rel dan pintu tidak bisa dibuka saat kejadian
- Sopir selamat setelah keluar melalui jendela kendaraan
- Kecelakaan berujung tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek
- 16 penumpang KRL meninggal dunia, ratusan lainnya selamat
- Polisi tingkatkan penyidikan, sopir masih berstatus saksi
- Pelintasan diperbaiki dan dipasangi palang besi
- Korlantas akan edukasi pengemudi EV terkait SOP darurat
- PT KAI jamin pendidikan anak korban meninggal

















